Generalisasi vs Detail/Spesifik dalam Sugesti.

Sebuah Konsep Sederhana Namun Powerfull dalam Conventional Hypnosis. Ada hal yang sederhana dan menarik untuk dibahas dalam ranah Conventional Hypnosis, Yaitu tentang Generalisasi vs Detail/Spesifik. Salah satu hukum pikiran bawah sadar (PBS) yang sangat penting untuk dipahami adalah: “PBS hanya bekerja maksimal jika informasi yang ia terima detail atau spesifik.” Mari kita ambil contoh langsung. Kira-kira, sugesti mana yang akan lebih mudah diterima dan dijalankan oleh PBS seorang klien yang memiliki masalah kurang percaya diri berbicara di depan umum? A. Generalisasi: “Anda menjadi luar biasa, semangat dan percaya diri. Pokoknya ketika Anda buka mata nanti Anda menjadi percaya diri.” B. Detail/Spesifik: “Ketika Anda membuka mata nanti: Jawabannya? Dua-duanya diterima oleh PBS. Tetapi poin B lebih mudah dieksekusi. PBS kita, saat mengalami masalah, cenderung mengalami distraksi, generalisasi, distorsi, hingga deletion.Akibatnya? Solusi menjadi kabur atau bahkan tidak muncul sama sekali. Dengan memberikan informasi atau sugesti yang lebih detail, Kita mempermudah PBS dalam mengeksekusi solusi tersebut. Alih-alih hanya memotivasi PBS agar percaya diri, lebih baik kita memberi tahu seperti apa percaya diri itu secara spesifik. Dalam kenyataannya, kita lebih mudah mengeksekusi sebuah solusi jika kita diarahkan oleh mentor kita… …ketimbang hanya disemangati, lalu disuruh mencari tahu sendiri soal masalah dan solusinya. Contoh: Mentor A: “Kamu pasti bisa mengurus izin praktik, semangat ya!” Mentor B: “Langkah pertama, kamu datang ke Dinkes. Lalu isi formulir ini, kemudian fotokopi dokumen ini. Setelah itu, bawa ke kantor bagian perizinan. Tunggu sekitar 3-5 hari kerja, lalu ambil kembali suratnya.” Kedua mentor itu sama-sama baik. Tetapi, sugesti dari Mentor B lebih mudah untuk dieksekusi. Karena apa? Karena SPESIFIK. Semakin spesifik dan detail sugesti yang diberikan, Semakin mudah PBS klien menjalankan program atau instruksi yang kita berikan. Dan inilah ilmu dasar dalam basic hypnosis, sederhana, tapi luar biasa powerfull. Berbeda dengan pendekatan Ericksonian Hypnosis (EH),yang justru menyukai sugesti yang general, ambigu, penuh metafora, dan dikemas dalam bentuk storytelling. Tujuannya? Agar solusi muncul dari dalam diri klien itu sendiri. Dua pendekatan ini, Conventional dan Ericksonian Hypnosis, Keduanya efektif, asalkan digunakan dengan tepat dan berbasis data. Dalam Dunia Pemasaran Konsep ini pun sering digunakan dalam dunia pemasaran dan komunikasi. Alih-alih mengatakan: “Mobil ini keren dan elegan.” Sebaiknya katakan: “Mobil ini keren karena desain lampunya menyipit seperti mata elang, membuat tampilan Anda terlihat berwibawa. Interiornya berlapis kulit dengan nuansa kayu gelap, membuat setiap duduk di dalamnya terasa seperti masuk ruang VIP pribadi.” Atau: Dibandingkan merek X, mobil ini jauh lebih senyap saat dikendarai, konsumsi BBM-nya 1:16, dan fitur keamanannya dilengkapi 8 airbags.” Semakin spesifik dan detail sebuah sugesti, Semakin mudah diterima oleh PBS seseorang, dan tidak hanya diterima, lebih mudah untuk dijalankan! Jadi, ketika kita ingin menyarankan sesuatu kepada klien, karyawan, anak, pasangan, bahkan diri kita sendiri… Berikan arah, bukan hanya semangat. Berikan langkah, bukan hanya harapan. Karena PBS lebih suka sesuatu yang jelas, konkret, dan bisa langsung dikerjakan. Coach Risman Aris, BCH, CSHt®, CIPakar Hipnoterapi & Generasi Kedua Milton H. Ericksonwww.rismanaris.com

Generalisasi vs Detail/Spesifik dalam Sugesti. Read More »

HIPNOTERAPIS DE LOZIER atau PEMENANG?, Anda ?

“Coach Risman, di daerah saya hipnosis masih dianggap aneh, awam, dan mistis. Jadi susah dapat klien.” Saya sudah terlalu sering mendengar kalimat seperti ini. Kalimat itu sering kali muncul dari dari pola pikir yang keliru. Itulah pola pikir seorang De Lozier, Istilah yang saya gunakan untuk menyebut mereka yang terus bersembunyi di balik keadaan. Tidak berpraktik. Tidak berprogres. Tidak mengambil tindakan, ingin punya klien, ingin enaknya saja, Tapi sibuk menyalahkan lingkungan. Padahal, kalau di kota, kabupaten, bahkan desa Anda hipnosis dan hipnoterapi masih dianggap asing, itu justru peluang yang sangat besar! Artinya Anda tidak punya pesaing. Anda bisa jadi pelopor. Anda bisa dikenal lebih mudah, lebih luas, dan lebih cepat. Yang dibutuhkan hanya satu: EDUKASI…. Anda tinggal melakukan edukasi secara masif, membuat masyarakat mengenal manfaat hipnoterapi, lalu menjadikan diri Anda sebagai rujukan utama. Namun apa yang dilakukan oleh para “De Lozier”? Tidak membuat konten.Tidak membagikan kartu nama.Tidak membuka praktik.Tidak menjalin relasi.Tidak membangun branding.Dan tetap menyalahkan keadaan. Mereka berkata, “Sulit Coach, orang-orang di sini belum tahu apa itu hipnoterapi.” Tapi justru karena orang-orang belum tahu, itulah peluangnya! Bayangkan kalau daerah Anda sudah teredukasi, dan ada banyak hipnoterapis lain yang muncul. Apa yang terjadi? Persaingan makin ketat.Sekarang bukan lagi tentang edukasi, tapi soal perang harga, perang kualitas, perang nilai tambah, dan perang branding. Lucunya, banyak hipnoterapis yang hari ini dikenal luas dan dipenuhi klien justru berasal dari daerah yang awalnya tidak paham apa itu hipnoterapi. Tapi mereka tidak diam. Mereka tidak jadi De Lozier.Mereka memilih menjadi PEMENANG. Mereka aktif: Dan hasilnya? Mari kita hitung… Satu klien biasanya menjalani minimal 3 sesi. Jika Anda punya 10 klien sebulan, itu berarti 30 sesi per bulan. 1 sesi: 2 jamTarif per sesi: Rp350.000Total penghasilan: Rp10.500.000 per bulan. Tanpa stok barang.Tanpa risiko barang kadaluarsa, rusak, atau terbakar. Modal utama Anda? Hanya ilmu dan skill, yang tersimpan di otak. Bandingkan dengan pekerja kantoran yang bekerja 8 jam sehari, Senin sampai Jumat. 8 jam x 5 hari = 40 jam per minggu 40 jam x 4 minggu = 160 jam per bulan Sementara Anda, sebagai hipnoterapis: 2 jam x 5 hari = 10 jam per minggu 10 jam x 4 minggu = 40 jam per bulan Artinya, Anda hanya bekerja seperempat jam kerja orang lain, dengan penghasilan yang bisa setara, bahkan lebih tinggi. Ini seperti pendapatan dokter spesiali dinegeri ini. Dan Anda tetap punya waktu untuk keluarga, ibadah, belajar, liburan, dan menumbuhkan diri dengan belajar, membaca, membuat pelatihan dan lainnya. Bekerja lebih tenang.Fleksibel.Tanpa adanya tekanan. Dan yang terpenting: bermanfaat untuk banyak orang. Sekarang saya tanya Anda: Apakah Anda masih ingin menjadi seorang De Lozier?Atau Sudah siap naik kelas, menjadi PEMENANG yang menciptakan peluang di tengah ketidaktahuan masyarakat? Pilihan itu ada ditangan Anda. Coach Risman Aris, BCH, CSHt®, CIPakar Hipnoterapi & Generasi Kedua Milton H. Ericksonwww.rismanaris.com

HIPNOTERAPIS DE LOZIER atau PEMENANG?, Anda ? Read More »

Conventional Vs Ericksonian Hypnosis.

Sebagian praktisi Conventional Hypnosis (CH) sering kali menganggap bahwa Ericksonian Hypnosis (EH) kurang efektif, Karena tidak menekankan pada pencapaian kedalaman trance yang dalam. Dalam sudut pandang mereka, keberhasilan hipnoterapi sangat ditentukan oleh sejauh mana klien masuk ke kondisi hipnosis yang dalam, deep somnambulism atau bahkan hypnoidal state tertentu. Seolah-olah, semakin dalam seseorang berada dalam trance, maka semakin besar pula peluang perubahan yang dapat terjadi. Namun sejatinya, Ericksonian Hypnosis bukanlah soal seberapa dalam klien bisa tenggelam dalam trance, Walaupun pada praktiknya, kondisi trance yang mendalam tetap mungkin dan terkadang memang terjadi. Tetapi itu bukan tujuan utama dari EH. EH lebih menitikberatkan pada penggalian dan aktivasi resources internal yang dimiliki oleh klien. Apa maksudnya resources? Resources adalah potensi tersembunyi dalam diri klien, kekuatan batin yang belum diakses, pilihan-pilihan yang selama ini tak disadari, dan solusi yang sebenarnya telah ada dalam diri klien, namun tertutup oleh kebingungan, trauma, atau tekanan hidup. EH membantu klien untuk menyadari: Apa yang sebenarnya perlu mereka lakukan untuk berubah. Bagaimana cara mereka sendiri dalam mengatasi masalahnya, bukan dengan cara orang lain. Kapan waktu terbaik untuk mulai melepaskan emosi negatif, dan kapan saat yang ideal untuk mulai menerima perubahan. Dalam kondisi seperti apa mereka merasa aman, nyaman, dan siap untuk berubah. Dan bagaimana emosi negatif itu ingin mereka hilangkan dari tubuh mereka, Apakah dengan cara melepaskannya, memindahkannya, mentransformasikannya, atau bahkan berdamai dengannya. Sebagai contoh, Seorang klien datang dengan keluhan panik yang muncul setiap kali ia berada di ruang rapat. Dalam pendekatan Conventional Hypnosis, bisa jadi hipnoterapis langsung membawa klien ke kondisi hipnosis yang dalam, dan memberikan sugesti semacam: “Mulai sekarang, setiap kali Anda masuk ke ruang rapat, Anda akan merasa tenang, santai, dan percaya diri.” Bahkan bisa ditambah teknik seperti anchor, part therapy, atau inner child. Tidak ada yang salah. Pendekatan ini efektif dan banyak kasus berhasil. Namun dalam pendekatan Ericksonian Hypnosis, hipnoterapis tidak buru-buru mengarahkan perubahan dari luar, melainkan membimbing klien masuk ke dalam dialog batin mereka sendiri. Mungkin hipnoterapis akan menggunakan metafora: “Bayangkan Anda duduk di sebuah ruang dengan jendela terbuka, dan dari luar, angin membawa masuk ide-ide baru. Di mana pun rasa panik itu biasa muncul, seolah ada bagian dalam diri Anda yang selama ini mencoba melindungi. Jika bagian itu bisa berbicara, apa yang ingin ia katakan? Dan jika Anda punya cara sendiri untuk merasa cukup aman dalam ruang rapat, kira-kira seperti apa bentuknya?” Dari proses ini, bisa jadi klien menyadari sendiri bahwa panik itu bukan musuh, melainkan alarm yang ia ciptakan sendiri, dan ia memilih untuk mengubah alarm itu menjadi sinyal2 kesiapan atau fokus. Inilah perbedaan besar antara CH dan EH. Conventional Hypnosis cenderung bersifat Hipnotherapist-Centered, yaitu perubahan datang dari sugesti, intervensi, dan strategi yang diberikan oleh hipnoterapis. Ericksonian Hypnosis bersifat Client-Centered, yaitu perubahan datang dari dalam diri klien itu sendiri, dan hipnoterapis hanya menjadi fasilitator perubahan. Dan penting untuk dipahami, keduanya sama-sama efektif, karena masing-masing memiliki landasan ilmiah, jurnal internasional, dan keberhasilan dalam ribuan kasus. Seseorang mungkin berhasil sembuh dari trauma melalui Direct Suggestion dalam CH, Sementara yang lain merasa lebih nyaman dan aman saat perubahan itu datang dari kesadaran batin dalam proses EH. Sebagai hipnoterapis profesional, kita tidak sedang membela satu mazhab dan merendahkan yang lain. Sebaliknya, kita perlu mengenali bahwa setiap klien memiliki peta dunia internal yang unik. Ada klien yang lebih cocok dengan pendekatan direktif, ada pula yang lebih efektif dengan pendekatan non-direktif. Jadi bukan soal siapa yang lebih dalam, siapa yang lebih cepat, atau siapa yang lebih kuat… Tapi soal siapa yang lebih tepat untuk masing-masing keunikan klien. Coach Risman Aris, BCH, CSHt®, CIPakar Hipnoterapi & Generasi Kedua Milton H. Erickson, MDwww.rismanaris.com

Conventional Vs Ericksonian Hypnosis. Read More »

Pelatihan Hipnoterapi Singkat Memiliki Perannya

Pelatihan singkat berdurasi 16–24 jam tentu memiliki perannya tersendiri dalam dunia hipnoterapi. Pelatihan semacam ini biasanya dirancang untuk memperkenalkan konsep dasar hipnoterapi dan membuka wawasan peserta mengenai potensi besar yang dimiliki pendekatan ini dalam membantu banyak orang. Namun, untuk mempelajari dan menangani gangguan mental secara lebih mendalam, Seorang hipnoterapis idealnya mengikuti pelatihan berdurasi 300 hingga 500 jam, Di mana materi yang diajarkan jauh lebih luas dan terstruktur. Pada pelatihan berdurasi 100–200 jam, yang dikenal sebagai level basic to advanced, Peserta telah dibekali dengan serangkaian teknik, strategi, dan metodologi hipnoterapi secara menyeluruh. Ini sudah sangat cukup untuk membentuk kompetensi dalam menangani gangguan psikis, psikosomatik, perilaku buruk, manajemen nyeri, dan sebagian gangguan mental ringan. Namun, penting untuk dipahami bahwa gangguan psikis dan gangguan mental adalah 2 hal yang memiliki karakteristik berbeda, baik dari sisi gejala maupun penanganan. Maka, pada jenjang lanjutan, yakni pelatihan berdurasi 300–500 jam, seorang hipnoterapis mulai mempelajari berbagai gangguan mental yang lebih kompleks. Pendekatan yang digunakan pun lebih sistematis dan berbasis pemahaman neurosains terkini. Ibarat seorang tukang kayu profesional, Ia tidak langsung membangun rumah saat pertama kali memegang palu. Ia harus terlebih dahulu menguasai seluruh alat kerja, seperti gergaji, mesin bor, obeng, meteran, Hingga memahami standar keselamatan kerja (K3) yang berlaku. Bahkan ketika salah satu alat tidak tersedia, ia mampu beradaptasi dengan menggunakan alternatif, Sambil tetap menjaga kualitas pekerjaan. Setelah kompeten dalam menggunakan seluruh peralatan, barulah ia membangun rumah secara menyeluruh, Dari pondasi, struktur cakar ayam, tiang-tiang penyangga, dinding, hingga penyelesaian akhir. Inilah proses menjadi profesional: Bertahap, terukur, dan berbasis pengalaman. Sebagaimana psikolog klinis menempuh pendidikan minimal enam tahun, Dan psikiater melalui proses pendidikan hingga dua belas tahun, Maka hipnoterapis pun seharusnya menempuh jenjang pelatihan 100–500 jam untuk benar-benar matang dalam praktiknya. CEU PHI adalah singkatan dari Continuing Education Unit’s The Professional Hypnotherapy Indonesia, sebuah program pengembangan berkelanjutan yang dirancang khusus bagi alumni dan praktisi hipnoterapi yang tergabung dalam komunitas PHI (Professional Hypnotherapy Indonesia). Dalam dunia profesi modern, pembelajaran tidak berhenti setelah sertifikasi. CEU PHI hadir sebagai wadah rutin untuk mempertajam kompetensi, memperbarui wawasan, dan memperdalam keterampilan praktis. Kegiatan ini diadakan secara bulanan, dengan topik yang relevan, terapan, dan berbasis data ilmiah terkini. Coach Risman Aris, BCH, CSHt, CIPakar Hipnoterapi & Generasi 2 Milton H Ericksonwww.rismanaris.com | www.phiku.com

Pelatihan Hipnoterapi Singkat Memiliki Perannya Read More »

Hipnoterapi Bisa Memperburuk Depresi Berat

Hati-hati, Jangan Asal Terapi, Karena Bisa Memicu Klien Bunuh Diri pada gangguan depresi berat. Hipnosis adalah salah satu bentuk intervensi yang sangat kuat dalam dunia terapi. Ia mampu membuka pintu ke dalam pikiran bawah sadar, membantu klien memahami akar emosinya, dan memperbaiki cara berpikir yang selama ini membatasi mereka. Namun, sekuat-kuatnya hipnosis, tidak semua kondisi cocok untuk diterapi dengan cara ini. Salah satu yang paling berisiko adalah ketika hipnosis diterapkan pada kasus depresi berat. Sering kali muncul asumsi bahwa klien yang mengalami depresi cukup dibawa masuk ke kondisi hipnosis agar merasa lebih lega. Padahal, dalam banyak kasus klinis, justru sebaliknya yang terjadi. Hipnosis berisiko memperkuat dorongan menyakiti diri, dan dalam beberapa kasus, justru mendorong klien semakin dekat pada niat bunuh diri bila kondisi emosinya belum siap. Penelitian klasik Crasilneck & Hall (1985) menemukan bahwa meskipun hipnosis bisa meredakan kecemasan sementara, namun dorongan bunuh diri yang tersembunyi tetap aktif. Ketika rasa takut atau ragu menghilang lebih dulu, maka impuls tersebut menjadi jauh lebih mudah dieksekusi. Ia kemudian tidak memiliki ketakutan dan kecemasan untuk menyakiti diri hingga bunuh diri. Inilah jebakan klinis yang sangat berbahaya bila tidak dikenali sejak awal. Sebagian klien datang dengan ekspektasi tinggi, berharap hipnosis bisa menjadi “obat ajaib” untuk luka batin mereka. Dan ketika kenyataan tak sesuai harapan, rasa kecewa yang muncul bisa jauh lebih dalam, bahkan memperparah kondisi mentalnya. Spiegel & Spiegel (1978) serta Meares (1979) mencatat bahwa kekecewaan dalam proses terapi bisa menjadi pemicu krisis psikologis yang lebih serius daripada depresinya sendiri. Teknik regresi usia, future pacing, atau bahkan visualisasi dalam hipnosis bisa menjadi pisau bermata dua. Jika dilakukan sembarangan pada klien dengan depresi berat, bukan penyembuhan yang didapat, Justru klien semakin larut dalam bayangan masa lalu yang kelam atau masa depan yang gelap. Hammond (1990) menyebut ini sebagai “penguatan negatif” yang bisa memperdalam luka emosional. Belum lagi fakta bahwa klien dengan depresi berat tidak selalu bisa dengan mudah dihipnosis. Fokusnya lemah, pikirannya berkabut, dan sering kali tidak mampu mempertahankan atensi terhadap sugesti yang diberikan. Spiegel dan Yapko juga mencatat bahwa hipnotisabilitas klien seperti ini cenderung rendah. Bila dipaksakan, justru bisa memperparah kondisi atau membuat mereka merasa “gagal” karena tak bisa mengikuti sesi. Di sinilah peran seorang hipnoterapis profesional diuji. Keberhasilan terapi bukan diukur dari berapa banyak klien yang berhasil dihipnosis, tetapi dari ketepatan dalam memilih kapan harus menggunakan hipnosis dan kapan tidak. Untuk kasus depresi berat, bisa jadi pilihan terbaik bukan langsung terapi, Tapi menstabilkan dulu kondisi emosi klien, atau bahkan merujuk ke psikiater atau dokter jiwa yang lebih tepat menangani fase awalnya. Malam ini, CEU PHI (untuk Member PHI–IBEH) akan membahas ini secara lengkap dan mendalam. Kita akan belajar mengenali red flag depresi berat, batas aman penggunaan hipnosis, Dan cara membangun strategi terapi yang lebih etis, terukur, dan manusiawi. Ini adalah bagian dari komitmen kita menjaga keselamatan klien dan kehormatan profesi yang kita cintai. Coach Risman Aris, BCH, CSHt, CIPakar Hipnoterapi & Generasi 2 Milton H Ericksonwww.rismanaris.com | www.phiku.com

Hipnoterapi Bisa Memperburuk Depresi Berat Read More »

Kenapa Seseorang Bisa Menjadi Pemarah ?

Ditinjau dari Perspektif Teori Pikiran dan Hipnosis, Mengapa ada orang yang mudah sekali tersulut emosi, bahkan untuk hal-hal yang tampak sepele? Dalam dunia hipnoterapi, kita memahami bahwa kemarahan tidak selalu muncul sebagai pilihan secara sadar, Melainkan sering kali merupakan respons otomatis dari bawah sadar yang telah diprogram oleh pengalaman hidup sebelumnya. Teori pikiran membagi struktur mental manusia ke dalam dua bagian utama: pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pikiran sadar adalah bagian yang logis, analitis, dan bertugas mengambil keputusan sehari-hari, namun kapasitasnya hanya sekitar 5–10%. Sementara itu, pikiran bawah sadar menyimpan seluruh rekaman memori jangka panjang, kebiasaan, dan emosi dan inilah bagian yang mengendalikan 90–95% respons kita, termasuk respons marah. Orang yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan emosional, kritik, atau bahkan kekerasan verbal, tanpa disadari menyimpan luka-luka emosional di dalam bawah sadarnya. Luka-luka ini menanamkan keyakinan dan pola perlindungan yang kelak menjadi reaksi otomatis: marah sebagai bentuk pertahanan diri. Ketika seseorang mengalami situasi yang memicu memori bawah sadar tersebut, Maka tubuh dan pikirannya akan merespons secara instingtif dengan ledakan emosi bukan karena ingin marah, tapi karena merasa “harus” marah untuk bertahan. Ini yang dalam hipnoterapi kita kenal sebagai program mental masa lalu. Lebih jauh lagi, dalam teori hipnosis terdapat bagian yang disebut sebagai critical area of mind, yaitu bagian dari pikiran yang bertugas menyaring informasi sebelum masuk ke bawah sadar. Saat seseorang sedang dalam kondisi stres berat, lelah, atau mengalami tekanan emosional yang terus-menerus, bagian penyaring ini menjadi lemah. Akibatnya, segala tekanan dari luar langsung diterima dan direspons oleh bawah sadar tanpa melalui proses analisis yang logis. Inilah mengapa banyak orang menjadi pemarah saat sedang kelelahan atau berada dalam tekanan bukan karena mereka berubah menjadi pribadi buruk, Tapi karena sistem penyaring pikirannya sedang tidak bekerja sevara optimal. Yang penting untuk dipahami adalah bahwa sikap pemarah bukanlah identitas, melainkan gejala. Sama seperti demam yang menjadi pertanda bahwa tubuh sedang mengalami infeksi, Maka kemarahan adalah pertanda bahwa ada luka emosional yang belum selesai, ada pola pikir yang perlu diperbaiki, dan ada sistem perlindungan diri yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang. Dalam sesi hipnoterapi, kita bisa menelusuri dan menyelesaikan akar dari kemarahan tersebut, apakah itu pengalaman masa kecil, trauma yang tidak disadari, atau keyakinan bawah sadar yang keliru. Melalui teknik-teknik seperti regresi, reframing, hingga emotional release, kita dapat membantu seseorang melepaskan beban emosional yang selama ini menumpuk dan membuatnya reaktif. Kabar baiknya, semua ini bisa diubah. Pikiran bawah sadar dapat diprogram ulang. Kita bisa mencabut program lama yang membuat seseorang merasa harus marah untuk bertahan, dan menggantinya dengan program baru yang lebih sehat: ketenangan, kepercayaan diri, serta kemampuan untuk merespons situasi dengan kepala dingin. Menjadi pribadi yang tenang bukanlah anugerah semata, melainkan keterampilan mental yang bisa dipelajari, dilatih, dan dibentuk melalui proses pembelajaran yang tepat. Dan salah satu metode efektif untuk itu adalah hipnoterapi profesional. Coach Risman Aris, BCH, CSHt, CIPakar Hipnoterapi & Generasi 2 Milton H Ericksonwww.rismanaris.com | www.phiku.com

Kenapa Seseorang Bisa Menjadi Pemarah ? Read More »

Psikolog Klinis Jengkel dengan Hipnoterapis

Banyak mitra psikolog klinis saya yang merasa jengkel dengan beberapa hipnoterapis. Bahkan, beberapa psikolog yang saya kenal secara pribadi dan Beberapa lainnya yang saya lihat membuat sindiran di video-video pendek mereka baik di TikTok maupun platform lainnya, sering menyampaikan kekecewaan terhadap praktik sebagian hipnoterapis (tersirat) yang dinilai sembrono. Mereka menyentil para terapis mental yang hanya menempuh pelatihan 2–3 hari, Namun sudah mengklaim bisa menangani kasus-kasus berat. Awalnya saya mendengarkan semua itu dengan netral, Tetapi setelah saya menyimak lebih dalam dan menggali informasi dari berbagai sudut, Saya justru semakin memahami kekesalan mereka. Dan jujur, saya pun akhirnya jengkel dengan sebagian hipnoterapis yang dimaksud. Ada beberapa poin penting yang membuat kami sepakat.Pertama, kami sama-sama jengkel dengan hipnoterapis yang melakukan klaim berlebihan. Mereka dengan mudah menyebutkan “bisa menyembuhkan”, “pasti sembuh”, “100% berhasil” dan sejenisnya. Padahal, alangkah bijaknya jika promosi seperti itu diganti dengan kata-kata yang lebih etis dan realistis, seperti “menangani”, “membantu Anda”, “mengurangi gejala”, atau “memfasilitasi pemulihan…”. Ini bukan soal jualan, tapi soal tanggung jawab etik dan profesionalisme. Kedua, kami juga jengkel saat menemukan hipnoterapis yang tidak menjalankan kode etik, Khususnya dalam hal menjaga privasi klien. Ada yang dengan enteng mengumbar kisah dan wajah klien remaja atau dewasa ke media sosial demi mengejar FYP, branding, atau bahkan uang. Saya pribadi sangat sepakat bahwa kita harus belajar dari para psikolog klinis, yang meskipun menangani banyak klien, sangat menjaga kerahasiaan sebagai harga mati. Saya yakin, jika seseorang benar-benar terbantu, mereka akan secara sukarela dan dari hati merekomendasikan layanan kita kepada siapa pun yang membutuhkan. Itulah promosi terbaik. Saya sendiri pernah mengajar dalam satu kelas pelatihan hipnoterapi yang pesertanya 8 orang adalah psikolog klinis dan belasan lainnya dari berbagai profesi. Di sela-sela kelas, saya sempat berkata, “Saya tertarik untuk kuliah psikologi, agar bisa lebih baik menangani klien.” Salah satu dari mereka menimpali, “Coach Risman tidak perlu kuliah psikologi kalau tujuannya untuk membantu klien, karena kami sendiri belajar hipnoterapi ke Anda.” Yang lainnya mengangguk setuju. Dari situ saya mantap untuk fokus menjadi hipnoterapis sejak 2015. Ketiga, para psikolog klinis sangat jengkel saat ada webinar atau pelatihan singkat yang membahas gangguan mental berat secara sembarangan. Padahal, isu ini tidak sesederhana seperti yang disampaikan. Apalagi jika materi slidenya tidak mencantumkan sumber ilmiah, definisi yang jelas, faktor risiko, ciri-ciri, dan penyebab gangguan. Tanpa referensi akademik yang memadai, peserta bisa tersesat dan malah melakukan self-diagnosis yang keliru. Saya pun setuju dengan kritik ini. Secara logika saja, pelatihan singkat tidak mungkin membahas gangguan mental secara tuntas dan aman. Seringkali pelatihan semacam itu dimulai dengan ajaran hari pertama yang meniru Romy Rafael atau Uya Kuya dll. Lalu hari kedua sudah belajar menangani curhat, menidurkan orang, memperdalam hipnosis, dan mempelajari belasan hingga 20 teknik lalu cara membangunkan. Padahal, ada banyak batasan penting dalam hipnoterapi yang wajib disampaikan secara konsisten oleh trainer agar tidak menyesatkan. Kini, makin sering kita temukan hipnoterapis yang melakukan live streaming membahas gangguan mental secara spesifik tanpa sumber, tanpa konteks. Akhirnya, lahir klaim-klaim yang menyesatkan. Saya pribadi, jika ada waktu, saya gunakan untuk membaca dan memahami gangguan mental. Saya belajar bagaimana psikolog mengintervensi klien dari tahap asesmen hingga terapi dari aspek keilmuan hingga keterampilan. Tapi tentu saya sadar, ini tidak serta merta membuat saya bisa “menjadi” psikolog. Untuk itu butuh pendidikan formal minimal enam tahun. Maka dari itu, apa yang saya pelajari tidak saya sembarang sampaikan di pelatihan. Saya berusaha selalu sadar pada batasan profesi hipnoterapis, bahwa kita berada di ranah complementary medicine, sebagai pelengkap dalam pendekatan medis holistik. Kita harus tahu, mana klien yang tidak boleh kita tangani. Mana yang harus dirujuk ke psikiater atau psikolog terlebih dahulu. Mana yang bisa kita bantu dengan hipnoterapi sambil didampingi pengobatan dari psikiater. Dan mana yang bisa kita tangani secara mandiri. Semua ini idealnya diajarkan dalam pelatihan berdurasi minimal 100 jam, agar hipnoterapis tidak hanya mahir secara teknis, tapi juga cakap secara etik dan sadar batasan. Semoga kita semua terus bisa memberi manfaat bagi klien dan peserta pelatihan kita, Menjadikannya ladang pahala, bukan justru menjadi malapetaka atau dosa jariyah. Coach Risman Aris, BCH, CSHt, CIPakar Hipnoterapi & Generasi 2 Milton H Ericksonwww.rismanaris.com | www.phiku.com

Psikolog Klinis Jengkel dengan Hipnoterapis Read More »

Hipnoterapis Bisa Menangani Gangguan Mental, Hati-Hati !

Banyak yang bertanya: “Apakah hipnoterapi bisa digunakan untuk menangani gangguan mental?” Jawabannya: ya, bisa, Namun ada catatan penting yang tidak boleh diabaikan. Dalam pendekatan yang kami kembangkan di PHI, hipnoterapi mampu mengintervensi 4 dimensi utama: Gangguan psikis dan psikosomatik, gangguan mental, pola perilaku buruk, serta keluhan nyeri. Dengan bekal pelatihan yang memadai dan etika profesi yang kuat, Seorang hipnoterapis profesional mampu menangani lebih dari 140 kasus umum, Belum termasuk klasifikasi gangguan mental berat maupun intervensi nyeri klinis. Namun khusus untuk gangguan mental, kami di PHI memberikan jenjang pelatihan lanjutan, Yakni Jenjang 3 (Expert Class 300 jam) yang secara khusus membekali peserta untuk memahami dan menangani gangguan mental secara bertanggung jawab dan terstruktur sesuai dengan standar internasional. Yang bisa menangani gangguan mental sedang dan berat hanyalah hipnoterapis yang telah menempuh pelatihan hipnoterapi minimal 200 jam sesuai standar yang ada. Di dalamnya, ada gangguan mental diklasifikasikan menjadi tiga tingkat: ringan, sedang, dan berat. Gangguan mental ringan, seperti kecemasan ringan, fobia sosial dll. Masih bisa ditangani secara langsung oleh hipnoterapis profesional yang sudah terlatih. Namun jika gangguan sudah masuk kategori sedang seperti trauma berat, gangguan kecemasan menyeluruh, atau depresi fungsional, Maka pendekatannya harus dilakukan secara kolaboratif bersama psikolog klinis. Dalam hal ini, hipnoterapis bertindak sebagai bagian dari tim intervensi, bukan sebagai satu-satunya penyedia terapi. Adapun untuk gangguan mental berat, seperti skizofrenia, kecanduan narkotika atau alkohol, depresi berat dengan ide bunuh diri, atau gangguan kejiwaan kronis lainnya, Hipnoterapis tidak boleh melakukan intervensi tanpa rujukan dan arahan dari psikiater. Terapi hanya boleh dilakukan apabila terdapat surat rujukan resmi dari psikiater, Dan pelaksanaannya harus berada di bawah pengawasan medis. Ini penting, karena intervensi yang keliru pada klien dengan gangguan berat bisa berisiko besar dan memperburuk kondisi mereka. Mengapa ini begitu penting? Karena gangguan mental berat bukanlah ranah yang bisa ditangani seorang diri. Hipnoterapi, jika tidak digunakan secara tepat, bukan hanya tidak efektif, tetapi bisa membahayakan kondisi klien. Di sinilah seorang hipnoterapis sejati menunjukkan profesionalismenya: bukan hanya tahu kapan harus bertindak, Tapi juga tahu kapan harus menahan diri dan merujuk ke yang lebih berwenang. Coach Risman Aris, BCH, CSHt, CIPakar Hipnoterapi & Generasi 2 Milton H Ericksonwww.rismanaris.com | www.phiku.com

Hipnoterapis Bisa Menangani Gangguan Mental, Hati-Hati ! Read More »

Bagaimana Jika Klien Berbohong Tentang Keluhannya?

Dalam dunia hipnoterapi, pertanyaan ini cukup penting:“Bagaimana jika klien tidak berkata jujur tentang keluhannya?” Jawaban sederhananya: yang paling dirugikan justru adalah klien itu sendiri. Hipnoterapi bekerja berdasarkan data dan cerita yang diberikan oleh klien.Proses terapi akan mengikuti arah informasi tersebut.Jika klien menyembunyikan sesuatu, mengaburkan fakta, atau bahkan berbohong, maka hipnoterapis pun akan menyusun strategi penanganan berdasarkan informasi yang keliru.Hasilnya? Progres terapi bisa lambat, tidak tepat sasaran, bahkan bisa jadi tidak membuahkan hasil. Bayangkan seseorang yang datang ke dokter karena sakit perut, namun ia tidak mengakui bahwa sebelumnya makan makanan basi atau mengonsumsi alkohol berlebihan. Dokter mungkin akan salah menebak penyebabnya, memberikan resep yang tidak sesuai, dan tentu saja, penyembuhan tidak akan terjadi atau justru memperparah kondisi. Begitu pula dalam hipnoterapi. Di sinilah pentingnya fase pre-induction, fase sebelum klien masuk ke kondisi hipnosis.Hipnoterapis profesional perlu piawai menjelaskan apa itu hipnosis, bagaimana proses hipnoterapi bekerja,serta menanamkan rasa aman dan nyaman pada diri klien. Ketika klien merasa diterima tanpa dihakimi, barulah ia cenderung terbuka dan jujur dalam bercerita. Maka, tugas utama hipnoterapis bukan hanya melakukan induksi,tapi juga membangun trust dan rapport.Karena hanya dengan kepercayaan dan keterbukaan,proses hipnoterapi bisa benar-benar menyentuh inti masalah dan menciptakan perubahan yang nyata. Coach Risman Aris, BCH, CSHt, CIPakar Hipnoterapi & Generasi 2 Milton H Ericksonwww.rismanaris.com | www.phiku.com

Bagaimana Jika Klien Berbohong Tentang Keluhannya? Read More »

Rekaman Sesi Hipnoterapi: Antara Hak Klien dan Tanggung Jawab Terapis

.Dalam praktik hipnoterapi profesional, Terdapat pertimbangan etis dan hukum mengenai apakah sesi hipnoterapi boleh direkam atau tidak. Dari sisi klien, hak atas privasi dan perlindungan data pribadi dijamin oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP). Pasal-pasal dalam UU ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki hak atas data pribadinya, Termasuk hak untuk menyetujui atau menolak pengumpulan, penggunaan, dan perekaman data dalam bentuk apa pun, termasuk suara dan video. Maka, secara hukum, klien memiliki hak penuh untuk menolak sesi hipnoterapinya direkam, dan penolakan tersebut wajib dihormati oleh hipnoterapis. Namun, dari sisi hipnoterapis, perekaman sesi kadang diperlukan bukan untuk disebarkan, Melainkan sebagai bagian dari standar profesional dan dokumentasi internal, sesuai dengan prinsip akuntabilitas dan pelaporan dalam praktik terapi. Rekaman dapat digunakan sebagai arsip untuk keperluan evaluasi pribadi, supervisi profesional (dengan menjaga anonimitas klien), Serta sebagai bentuk perlindungan hukum jika suatu hari muncul perselisihan. Selain itu, rekaman juga penting bagi hipnoterapis sebagai bentuk pengamanan diri di masa yang akan datang, Apabila muncul tuduhan atau klaim yang tidak sesuai dengan kenyataan proses terapi yang berlangsung. Hal ini didukung oleh prinsip umum etika profesi, termasuk dalam Kode Etik Asosiasi Hipnoterapis Profesional baik nasional maupun internasional, Yang memperbolehkan dokumentasi dengan catatan telah ada persetujuan eksplisit dari klien secara tertulis Dan rekaman tersebut dijaga kerahasiaannya. Dengan demikian, perekaman sesi hipnoterapi bukanlah pelanggaran jika dilakukan secara etis dan legal. Tetapi ketika klien menyatakan keberatan, Maka hipnoterapis wajib menghormatinya dan mencari solusi dokumentasi lain yang tetap melindungi kepentingan kedua belah pihak. Di atas semua itu, hipnoterapi adalah proses yang dibangun atas dasar kepercayaan, Sehingga transparansi dan komunikasi terbuka dengan klien sangat penting, Termasuk menjelaskan alasan perekaman, memastikan kerahasiaannya, Serta menghormati hak hukum klien sebagai bagian dari perlindungan privasi yang sah. Coach Risman Aris, BCH, CSHt, CIPakar Hipnoterapi & Generasi 2 Milton H Ericksonwww.rismanaris.com

Rekaman Sesi Hipnoterapi: Antara Hak Klien dan Tanggung Jawab Terapis Read More »

Scroll to Top