Kenapa Seseorang Bisa Menjadi Pemarah ?

Ditinjau dari Perspektif Teori Pikiran dan Hipnosis, Mengapa ada orang yang mudah sekali tersulut emosi, bahkan untuk hal-hal yang tampak sepele?

Dalam dunia hipnoterapi, kita memahami bahwa kemarahan tidak selalu muncul sebagai pilihan secara sadar, Melainkan sering kali merupakan respons otomatis dari bawah sadar yang telah diprogram oleh pengalaman hidup sebelumnya.

Teori pikiran membagi struktur mental manusia ke dalam dua bagian utama: pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pikiran sadar adalah bagian yang logis, analitis, dan bertugas mengambil keputusan sehari-hari, namun kapasitasnya hanya sekitar 5–10%.

Sementara itu, pikiran bawah sadar menyimpan seluruh rekaman memori jangka panjang, kebiasaan, dan emosi dan inilah bagian yang mengendalikan 90–95% respons kita, termasuk respons marah.

Orang yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan emosional, kritik, atau bahkan kekerasan verbal, tanpa disadari menyimpan luka-luka emosional di dalam bawah sadarnya.

Luka-luka ini menanamkan keyakinan dan pola perlindungan yang kelak menjadi reaksi otomatis: marah sebagai bentuk pertahanan diri. Ketika seseorang mengalami situasi yang memicu memori bawah sadar tersebut, Maka tubuh dan pikirannya akan merespons secara instingtif dengan ledakan emosi bukan karena ingin marah, tapi karena merasa “harus” marah untuk bertahan.

Ini yang dalam hipnoterapi kita kenal sebagai program mental masa lalu. Lebih jauh lagi, dalam teori hipnosis terdapat bagian yang disebut sebagai critical area of mind, yaitu bagian dari pikiran yang bertugas menyaring informasi sebelum masuk ke bawah sadar. Saat seseorang sedang dalam kondisi stres berat, lelah, atau mengalami tekanan emosional yang terus-menerus, bagian penyaring ini menjadi lemah.

Akibatnya, segala tekanan dari luar langsung diterima dan direspons oleh bawah sadar tanpa melalui proses analisis yang logis. Inilah mengapa banyak orang menjadi pemarah saat sedang kelelahan atau berada dalam tekanan bukan karena mereka berubah menjadi pribadi buruk,

Tapi karena sistem penyaring pikirannya sedang tidak bekerja sevara optimal. Yang penting untuk dipahami adalah bahwa sikap pemarah bukanlah identitas, melainkan gejala. Sama seperti demam yang menjadi pertanda bahwa tubuh sedang mengalami infeksi,

Maka kemarahan adalah pertanda bahwa ada luka emosional yang belum selesai, ada pola pikir yang perlu diperbaiki, dan ada sistem perlindungan diri yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang. Dalam sesi hipnoterapi, kita bisa menelusuri dan menyelesaikan akar dari kemarahan tersebut, apakah itu pengalaman masa kecil, trauma yang tidak disadari, atau keyakinan bawah sadar yang keliru.

Melalui teknik-teknik seperti regresi, reframing, hingga emotional release, kita dapat membantu seseorang melepaskan beban emosional yang selama ini menumpuk dan membuatnya reaktif.

Kabar baiknya, semua ini bisa diubah. Pikiran bawah sadar dapat diprogram ulang.

Kita bisa mencabut program lama yang membuat seseorang merasa harus marah untuk bertahan, dan menggantinya dengan program baru yang lebih sehat: ketenangan, kepercayaan diri, serta kemampuan untuk merespons situasi dengan kepala dingin. Menjadi pribadi yang tenang bukanlah anugerah semata, melainkan keterampilan mental yang bisa dipelajari, dilatih, dan dibentuk melalui proses pembelajaran yang tepat.

Dan salah satu metode efektif untuk itu adalah hipnoterapi profesional.

Coach Risman Aris, BCH, CSHt, CI
Pakar Hipnoterapi & Generasi 2 Milton H Erickson
www.rismanaris.com | www.phiku.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top