Conventional Vs Ericksonian Hypnosis.

Sebagian praktisi Conventional Hypnosis (CH) sering kali menganggap bahwa Ericksonian Hypnosis (EH) kurang efektif,

Karena tidak menekankan pada pencapaian kedalaman trance yang dalam.

Dalam sudut pandang mereka, keberhasilan hipnoterapi sangat ditentukan oleh sejauh mana klien masuk ke kondisi hipnosis yang dalam, deep somnambulism atau bahkan hypnoidal state tertentu.

Seolah-olah, semakin dalam seseorang berada dalam trance, maka semakin besar pula peluang perubahan yang dapat terjadi.

Namun sejatinya, Ericksonian Hypnosis bukanlah soal seberapa dalam klien bisa tenggelam dalam trance,

Walaupun pada praktiknya, kondisi trance yang mendalam tetap mungkin dan terkadang memang terjadi.

Tetapi itu bukan tujuan utama dari EH.

EH lebih menitikberatkan pada penggalian dan aktivasi resources internal yang dimiliki oleh klien.

Apa maksudnya resources?

Resources adalah potensi tersembunyi dalam diri klien, kekuatan batin yang belum diakses, pilihan-pilihan yang selama ini tak disadari, dan solusi yang sebenarnya telah ada dalam diri klien, namun tertutup oleh kebingungan, trauma, atau tekanan hidup.

EH membantu klien untuk menyadari:

Apa yang sebenarnya perlu mereka lakukan untuk berubah. Bagaimana cara mereka sendiri dalam mengatasi masalahnya, bukan dengan cara orang lain. Kapan waktu terbaik untuk mulai melepaskan emosi negatif, dan kapan saat yang ideal untuk mulai menerima perubahan.

Dalam kondisi seperti apa mereka merasa aman, nyaman, dan siap untuk berubah. Dan bagaimana emosi negatif itu ingin mereka hilangkan dari tubuh mereka,

Apakah dengan cara melepaskannya, memindahkannya, mentransformasikannya, atau bahkan berdamai dengannya.

Sebagai contoh,

Seorang klien datang dengan keluhan panik yang muncul setiap kali ia berada di ruang rapat. Dalam pendekatan Conventional Hypnosis, bisa jadi hipnoterapis langsung membawa klien ke kondisi hipnosis yang dalam, dan memberikan sugesti semacam:

“Mulai sekarang, setiap kali Anda masuk ke ruang rapat, Anda akan merasa tenang, santai, dan percaya diri.”

Bahkan bisa ditambah teknik seperti anchor, part therapy, atau inner child. Tidak ada yang salah. Pendekatan ini efektif dan banyak kasus berhasil.

Namun dalam pendekatan Ericksonian Hypnosis, hipnoterapis tidak buru-buru mengarahkan perubahan dari luar, melainkan membimbing klien masuk ke dalam dialog batin mereka sendiri. Mungkin hipnoterapis akan menggunakan metafora:

“Bayangkan Anda duduk di sebuah ruang dengan jendela terbuka, dan dari luar, angin membawa masuk ide-ide baru. Di mana pun rasa panik itu biasa muncul, seolah ada bagian dalam diri Anda yang selama ini mencoba melindungi. Jika bagian itu bisa berbicara, apa yang ingin ia katakan? Dan jika Anda punya cara sendiri untuk merasa cukup aman dalam ruang rapat, kira-kira seperti apa bentuknya?”

Dari proses ini, bisa jadi klien menyadari sendiri bahwa panik itu bukan musuh, melainkan alarm yang ia ciptakan sendiri, dan ia memilih untuk mengubah alarm itu menjadi sinyal2 kesiapan atau fokus.

Inilah perbedaan besar antara CH dan EH.

Conventional Hypnosis cenderung bersifat Hipnotherapist-Centered, yaitu perubahan datang dari sugesti, intervensi, dan strategi yang diberikan oleh hipnoterapis.

Ericksonian Hypnosis bersifat Client-Centered, yaitu perubahan datang dari dalam diri klien itu sendiri, dan hipnoterapis hanya menjadi fasilitator perubahan.

Dan penting untuk dipahami, keduanya sama-sama efektif, karena masing-masing memiliki landasan ilmiah, jurnal internasional, dan keberhasilan dalam ribuan kasus.

Seseorang mungkin berhasil sembuh dari trauma melalui Direct Suggestion dalam CH, Sementara yang lain merasa lebih nyaman dan aman saat perubahan itu datang dari kesadaran batin dalam proses EH.

Sebagai hipnoterapis profesional, kita tidak sedang membela satu mazhab dan merendahkan yang lain. Sebaliknya, kita perlu mengenali bahwa setiap klien memiliki peta dunia internal yang unik.

Ada klien yang lebih cocok dengan pendekatan direktif, ada pula yang lebih efektif dengan pendekatan non-direktif. Jadi bukan soal siapa yang lebih dalam, siapa yang lebih cepat, atau siapa yang lebih kuat… Tapi soal siapa yang lebih tepat untuk masing-masing keunikan klien.

Coach Risman Aris, BCH, CSHt®, CI
Pakar Hipnoterapi & Generasi Kedua Milton H. Erickson, MD
www.rismanaris.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top