Banyak mitra psikolog klinis saya yang merasa jengkel dengan beberapa hipnoterapis. Bahkan, beberapa psikolog yang saya kenal secara pribadi dan
Beberapa lainnya yang saya lihat membuat sindiran di video-video pendek mereka baik di TikTok maupun platform lainnya, sering menyampaikan kekecewaan terhadap praktik sebagian hipnoterapis (tersirat) yang dinilai sembrono.
Mereka menyentil para terapis mental yang hanya menempuh pelatihan 2–3 hari, Namun sudah mengklaim bisa menangani kasus-kasus berat.
Awalnya saya mendengarkan semua itu dengan netral, Tetapi setelah saya menyimak lebih dalam dan menggali informasi dari berbagai sudut,
Saya justru semakin memahami kekesalan mereka. Dan jujur, saya pun akhirnya jengkel dengan sebagian hipnoterapis yang dimaksud.
Ada beberapa poin penting yang membuat kami sepakat.Pertama, kami sama-sama jengkel dengan hipnoterapis yang melakukan klaim berlebihan.

Mereka dengan mudah menyebutkan “bisa menyembuhkan”, “pasti sembuh”, “100% berhasil” dan sejenisnya. Padahal, alangkah bijaknya jika promosi seperti itu diganti dengan kata-kata yang lebih etis dan realistis, seperti “menangani”, “membantu Anda”, “mengurangi gejala”, atau “memfasilitasi pemulihan…”.
Ini bukan soal jualan, tapi soal tanggung jawab etik dan profesionalisme. Kedua, kami juga jengkel saat menemukan hipnoterapis yang tidak menjalankan kode etik, Khususnya dalam hal menjaga privasi klien. Ada yang dengan enteng mengumbar kisah dan wajah klien remaja atau dewasa ke media sosial demi mengejar FYP, branding, atau bahkan uang.
Saya pribadi sangat sepakat bahwa kita harus belajar dari para psikolog klinis, yang meskipun menangani banyak klien, sangat menjaga kerahasiaan sebagai harga mati.
Saya yakin, jika seseorang benar-benar terbantu, mereka akan secara sukarela dan dari hati merekomendasikan layanan kita kepada siapa pun yang membutuhkan.
Itulah promosi terbaik.
Saya sendiri pernah mengajar dalam satu kelas pelatihan hipnoterapi yang pesertanya 8 orang adalah psikolog klinis dan belasan lainnya dari berbagai profesi. Di sela-sela kelas, saya sempat berkata, “Saya tertarik untuk kuliah psikologi, agar bisa lebih baik menangani klien.”
Salah satu dari mereka menimpali, “Coach Risman tidak perlu kuliah psikologi kalau tujuannya untuk membantu klien, karena kami sendiri belajar hipnoterapi ke Anda.”
Yang lainnya mengangguk setuju.
Dari situ saya mantap untuk fokus menjadi hipnoterapis sejak 2015. Ketiga, para psikolog klinis sangat jengkel saat ada webinar atau pelatihan singkat yang membahas gangguan mental berat secara sembarangan.
Padahal, isu ini tidak sesederhana seperti yang disampaikan. Apalagi jika materi slidenya tidak mencantumkan sumber ilmiah, definisi yang jelas, faktor risiko, ciri-ciri, dan penyebab gangguan.
Tanpa referensi akademik yang memadai, peserta bisa tersesat dan malah melakukan self-diagnosis yang keliru. Saya pun setuju dengan kritik ini.
Secara logika saja, pelatihan singkat tidak mungkin membahas gangguan mental secara tuntas dan aman. Seringkali pelatihan semacam itu dimulai dengan ajaran hari pertama yang meniru Romy Rafael atau Uya Kuya dll.
Lalu hari kedua sudah belajar menangani curhat, menidurkan orang, memperdalam hipnosis, dan mempelajari belasan hingga 20 teknik lalu cara membangunkan. Padahal, ada banyak batasan penting dalam hipnoterapi yang wajib disampaikan secara konsisten oleh trainer agar tidak menyesatkan.
Kini, makin sering kita temukan hipnoterapis yang melakukan live streaming membahas gangguan mental secara spesifik tanpa sumber, tanpa konteks. Akhirnya, lahir klaim-klaim yang menyesatkan.
Saya pribadi, jika ada waktu, saya gunakan untuk membaca dan memahami gangguan mental. Saya belajar bagaimana psikolog mengintervensi klien dari tahap asesmen hingga terapi dari aspek keilmuan hingga keterampilan.
Tapi tentu saya sadar, ini tidak serta merta membuat saya bisa “menjadi” psikolog. Untuk itu butuh pendidikan formal minimal enam tahun.
Maka dari itu, apa yang saya pelajari tidak saya sembarang sampaikan di pelatihan. Saya berusaha selalu sadar pada batasan profesi hipnoterapis, bahwa kita berada di ranah complementary medicine, sebagai pelengkap dalam pendekatan medis holistik.
Kita harus tahu, mana klien yang tidak boleh kita tangani. Mana yang harus dirujuk ke psikiater atau psikolog terlebih dahulu. Mana yang bisa kita bantu dengan hipnoterapi sambil didampingi pengobatan dari psikiater. Dan mana yang bisa kita tangani secara mandiri.
Semua ini idealnya diajarkan dalam pelatihan berdurasi minimal 100 jam, agar hipnoterapis tidak hanya mahir secara teknis, tapi juga cakap secara etik dan sadar batasan. Semoga kita semua terus bisa memberi manfaat bagi klien dan peserta pelatihan kita, Menjadikannya ladang pahala, bukan justru menjadi malapetaka atau dosa jariyah.
Coach Risman Aris, BCH, CSHt, CI
Pakar Hipnoterapi & Generasi 2 Milton H Erickson
www.rismanaris.com | www.phiku.com