Hipnoterapi Bisa Memperburuk Depresi Berat

Hati-hati, Jangan Asal Terapi, Karena Bisa Memicu Klien Bunuh Diri pada gangguan depresi berat.

Hipnosis adalah salah satu bentuk intervensi yang sangat kuat dalam dunia terapi. Ia mampu membuka pintu ke dalam pikiran bawah sadar, membantu klien memahami akar emosinya, dan memperbaiki cara berpikir yang selama ini membatasi mereka.

Namun, sekuat-kuatnya hipnosis, tidak semua kondisi cocok untuk diterapi dengan cara ini. Salah satu yang paling berisiko adalah ketika hipnosis diterapkan pada kasus depresi berat.

Sering kali muncul asumsi bahwa klien yang mengalami depresi cukup dibawa masuk ke kondisi hipnosis agar merasa lebih lega. Padahal, dalam banyak kasus klinis, justru sebaliknya yang terjadi. Hipnosis berisiko memperkuat dorongan menyakiti diri, dan dalam beberapa kasus, justru mendorong klien semakin dekat pada niat bunuh diri bila kondisi emosinya belum siap.

Penelitian klasik Crasilneck & Hall (1985) menemukan bahwa meskipun hipnosis bisa meredakan kecemasan sementara, namun dorongan bunuh diri yang tersembunyi tetap aktif.

Ketika rasa takut atau ragu menghilang lebih dulu, maka impuls tersebut menjadi jauh lebih mudah dieksekusi. Ia kemudian tidak memiliki ketakutan dan kecemasan untuk menyakiti diri hingga bunuh diri.

Inilah jebakan klinis yang sangat berbahaya bila tidak dikenali sejak awal. Sebagian klien datang dengan ekspektasi tinggi, berharap hipnosis bisa menjadi “obat ajaib” untuk luka batin mereka. Dan ketika kenyataan tak sesuai harapan, rasa kecewa yang muncul bisa jauh lebih dalam, bahkan memperparah kondisi mentalnya.

Spiegel & Spiegel (1978) serta Meares (1979) mencatat bahwa kekecewaan dalam proses terapi bisa menjadi pemicu krisis psikologis yang lebih serius daripada depresinya sendiri.

Teknik regresi usia, future pacing, atau bahkan visualisasi dalam hipnosis bisa menjadi pisau bermata dua. Jika dilakukan sembarangan pada klien dengan depresi berat, bukan penyembuhan yang didapat, Justru klien semakin larut dalam bayangan masa lalu yang kelam atau masa depan yang gelap.

Hammond (1990) menyebut ini sebagai “penguatan negatif” yang bisa memperdalam luka emosional. Belum lagi fakta bahwa klien dengan depresi berat tidak selalu bisa dengan mudah dihipnosis. Fokusnya lemah, pikirannya berkabut, dan sering kali tidak mampu mempertahankan atensi terhadap sugesti yang diberikan.

Spiegel dan Yapko juga mencatat bahwa hipnotisabilitas klien seperti ini cenderung rendah. Bila dipaksakan, justru bisa memperparah kondisi atau membuat mereka merasa “gagal” karena tak bisa mengikuti sesi.

Di sinilah peran seorang hipnoterapis profesional diuji. Keberhasilan terapi bukan diukur dari berapa banyak klien yang berhasil dihipnosis, tetapi dari ketepatan dalam memilih kapan harus menggunakan hipnosis dan kapan tidak.

Untuk kasus depresi berat, bisa jadi pilihan terbaik bukan langsung terapi, Tapi menstabilkan dulu kondisi emosi klien, atau bahkan merujuk ke psikiater atau dokter jiwa yang lebih tepat menangani fase awalnya.

Malam ini, CEU PHI (untuk Member PHI–IBEH) akan membahas ini secara lengkap dan mendalam. Kita akan belajar mengenali red flag depresi berat, batas aman penggunaan hipnosis, Dan cara membangun strategi terapi yang lebih etis, terukur, dan manusiawi. Ini adalah bagian dari komitmen kita menjaga keselamatan klien dan kehormatan profesi yang kita cintai.

Coach Risman Aris, BCH, CSHt, CI
Pakar Hipnoterapi & Generasi 2 Milton H Erickson
www.rismanaris.com | www.phiku.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top