Mengapa PHI Tidak Mengeluarkan Sertifikasi Clinical Hypnotherapy ?
Saya bahagia karena saat ini pelatihan clinical hypnotherapy mulai marak dilaksanakan di Indonesia. Dulu, banyak orang tidak berani menyelenggarakan pelatihan dengan label “clinical” karena dianggap sebagai trade mark yang sensitif, identik dengan kompetensi tinggi, dan hanya boleh diajarkan oleh kalangan medis atau psikolog klinis. Kini, semakin banyak asosiasi yang mulai membuka kelas dengan label tersebut, dan hal ini tentu menjadi kabar baik bagi perkembangan hipnoterapi di tanah air. Namun, perlu ditegaskan bahwa di Professional Hypnotherapy Indonesia (PHI), kami tidak mengeluarkan sertifikasi dengan gelar Clinical Hypnotherapy. Bukan berarti kami tidak mempelajarinya, melainkan kami menempatkan materi ini pada pembelajaran lanjutan (CEU PHI) yang dipelajari secara menyeluruh setelah peserta lulus dari program dasar hingga tingkat lanjut. Dengan kata lain, setelah menyelesaikan Level Hypnotherapy – Profesional 200 jam (160 jam tatap muka di kelas + 40 jam supervisi), peserta memperoleh gelar Certified Specialist Hypnotherapy, suatu jenjang yang berada di atas Certified Hypnotherapist (CHT) standar internasional pada umumnya. Setelah itu, peserta tidak dilepas begitu saja, tetapi secara rutin setiap bulan mereka dapat mengikuti kelas tambahan yang memperdalam keilmuan dan aplikasi hipnoterapi dalam konteks klinis. Di sinilah pengetahuan clinical hypnotherapy dipelajari, bukan dalam bentuk sertifikasi, tetapi dalam bentuk pengayaan yang berkesinambungan. Pendekatan ini kami ambil karena kami menghargai pihak-pihak yang telah lebih dahulu mendaftarkan trade mark “Clinical Hypnotherapy” di Kementerian Hukum dan HAM RI. Kami juga sejalan dengan standar internasional yang menekankan bahwa pelatihan klinis baru dapat ditempuh setelah seseorang menguasai level Hypnotherapy minimal 200 jam. Bahkan, di beberapa lembaga internasional, program clinical baru dimulai dengan tambahan sekitar 100 jam pelatihan lanjutan. Dengan demikian, lulusan Certified Specialist Hypnotherapy di PHI benar-benar memiliki kompetensi berlapis, baik dari sisi teknik, strategi, sikap (attitude), maupun etika profesional. Dalam memahami standar internasional, kita tidak bisa lepas dari National Guild of Hypnotists (NGH), asosiasi hipnotis tertua dan terbesar di dunia. Berdiri sejak 1950, NGH telah menjadi organisasi paling berpengaruh dalam menetapkan etika, batasan, serta terminologi resmi dalam praktik hipnosis. Dalam dokumen Ethics, Standards & Recommended Terminology (2022), NGH menegaskan bahwa “Titles of Practice” yang disetujui antara lain Consulting Hypnotist, Certified Hypnotist/Hypnotist, Certified Instructor, Board Certified Hypnotist, dan lain-lain. Dalam dokumen itu juga tercantum: “For example, persons who have passed the Guild’s Clinical Hypnotism or Medical Hypnotism certifications may say they are certified in Clinical or Medical Hypnotism. However, they may not call themselves ‘Certified Clinical Hypnotists’ nor ‘Certified Medical Hypnotists.’” Artinya, meskipun seseorang lulus program Clinical Hypnotism atau Medical Hypnotism, mereka tidak boleh menyebut diri sebagai Certified Clinical Hypnotist maupun Certified Medical Hypnotist. Lebih jauh, NGH mengingatkan bahwa kecuali seseorang memiliki kredensial medis atau psikologis resmi, mereka harus menghindari penggunaan istilah yang berkaitan dengan psikopatologi atau kedokteran ketika bekerja dengan klien, kecuali dalam konteks rujukan dari tenaga medis atau profesional kesehatan mental berlisensi. Hal ini ditegaskan dalam dokumen Scope of Practice Considerations, di mana NGH membedakan dengan jelas antara Consulting Hypnotist dan layanan kesehatan. Dinyatakan: “Most hypnotic practitioners do not possess a state-issued healthcare license that includes the practice of hypnotism… In the nomenclature used by the National Guild of Hypnotists, such persons use the general title of Consulting Hypnotist and call what they do Consulting Hypnotism. They should not hold hypnotic services out to the public in a way that implies they are healthcare services, nor should they offer to diagnose, treat or prescribe for any condition or problem.” Dengan kata lain, praktisi hipnosis tanpa lisensi medis tidak boleh menampilkan diri seolah-olah memberikan layanan kesehatan atau mengklaim dapat mendiagnosis dan mengobati kondisi medis/psikologis. Masih dalam dokumen yang sama, NGH menambahkan bahwa penggunaan terminologi yang tepat akan membantu anggota menghindari masalah hukum. Kata-kata yang lazim digunakan dalam profesi medis harus dihindari bila tidak memiliki lisensi yang sesuai. Hal ini sejalan dengan Code of Ethics NGH yang menyatakan: “Members shall use hypnosis strictly within the limits of their training and competence and in conformity to the laws of their state.” Anggota diwajibkan menggunakan hipnosis sesuai batas kompetensi dan hukum yang berlaku, serta bersikap jujur mengenai sertifikasi yang dimiliki. Pada bagian Complementary Practice, ditegaskan lagi: “Members shall neither diagnose, treat nor prescribe for clients regarding issues related to medical or mental health conditions. Members shall work with clients only with the intent to enhance the client’s own natural restorative and coping abilities, and will make no therapeutic claims.” Dengan demikian, anggota NGH tidak boleh membuat klaim medis atau terapeutik kecuali mereka benar-benar memiliki lisensi medis/psikologis yang sah. Pandangan-pandangan internasional ini memperlihatkan variasi penggunaan istilah “Clinical Hypnotherapy” di berbagai negara: Amerika Serikat (AS) Tidak ada aturan federal yang secara eksplisit melarang penggunaan istilah Clinical Hypnotherapy. Namun, kata “clinical” sangat erat dengan dunia medis dan psikologi. Praktisi non-medis lebih aman menggunakan istilah Certified Hypnotherapist, Hypnotherapy Practitioner, atau Consulting Hypnotist. NGH dengan tegas melarang gelar Certified Clinical Hypnotist bagi mereka yang bukan tenaga medis, dan menganjurkan agar praktisi non-medis tidak memakai bahasa medis/psikopatologi untuk menghindari kesalahpahaman publik atau tuduhan praktik medis tanpa izin. Inggris (UK) Hipnoterapi tidak diatur langsung oleh hukum kesehatan, tetapi diawasi oleh Advertising Standards Authority (ASA) yang melarang klaim menyesatkan. Praktisi non-medis tidak boleh menyebut dirinya Clinical Hypnotherapist bila tidak memiliki latar belakang medis/psikologi klinis. Oleh sebab itu, banyak praktisi di UK memilih istilah Hypnotherapist atau Complementary Therapist. Australia Regulasi bervariasi antar negara bagian. Australian Hypnotherapists’ Association (AHA) memperbolehkan penggunaan istilah Clinical Hypnotherapist bagi anggota yang menempuh pelatihan formal minimal 650 jam. Latar belakang medis tidak mutlak diperlukan, tetapi standar pelatihan ketat tetap diberlakukan. Indonesia & Asosiasi Internasional Hingga kini belum ada regulasi pemerintah Indonesia yang mengatur penggunaan istilah Clinical Hypnotherapy. Lembaga internasional lain, menggunakan label Clinical Hypnotherapist untuk lulusannya, meski tidak semuanya dari kalangan medis/psikolog. Dari sisi etika, tenaga kesehatan/psikolog sah menggunakan istilah ini, sementara praktisi non-medis lebih aman memakai sebutan Hypnotherapist atau Certified Hypnotherapist, dan pengembangannya. Dengan semua pertimbangan ini, PHI mengambil posisi yang hati-hati dan sejalan dengan standar internasional. Walau kami memiliki standar pelatihan tertinggi di Indonesia yaitu 500 Jam. Kami tidak menerbitkan sertifikasi Clinical Hypnotherapy, tetapi kami memberikan kesempatan bagi peserta untuk mempelajari aspek klinis melalui program pengayaan setelah lulus 200 jam. Tidak hanya itu, kami juga mengajarkan
Mengapa PHI Tidak Mengeluarkan Sertifikasi Clinical Hypnotherapy ? Read More »








