Hai, beberapa hari ini saya cukup sibuk dengan berbagai pekerjaan sehingga jarang menulis. Namun hari ini saya ingin berbagi sebuah catatan penting, sesuai dengan judul di atas.

Salah satu penyebab gagalnya proses hipnoterapi adalah hipnoterapis yang terlalu banyak bicara.
Tidak jarang seorang hipnoterapis merasa dirinya lebih pintar, lebih tahu, atau lebih hebat daripada klien. Akibatnya, di fase pre-induction atau saat klien sedang bercerita, hipnoterapis justru sibuk menasihati, sok menggurui, bahkan mengoreksi apa yang dilakukan atau yang dibicarakan klien. Padahal, sikap seperti ini sangat fatal. Mengapa?
Karena bisa menimbulkan reaksi resistensi di pikiran sadar maupun bawah sadar klien.
Klien bisa saja dalam hati mendongkol dan berkata:
- “Yaelah, ini mah sama saja kayak teman saya kasih nasihat…”
- “Ini mah bisa saya dapat di chat GPT…”
- “Susah banget berubah kalau ketemu yang model begini…”
- “Aduh, kok malah jadi digurui, bukannya dibantu…”
Saat resistensi muncul, bangunan kepercayaan klien akan runtuh. Alih-alih merasa dipahami, klien justru merasa dihakimi. Ingatlah, pada fase pre-induction, yang kita butuhkan hanyalah strategi mendengarkan dan menerima.
Kita boleh memberikan nasihat atau opini hanya jika diminta. Sebagai hipnoterapis, tugas kita bukan menjadi penceramah. Kita baru bisa “banyak bicara” atau menjelaskan sesuatu setelah klien masuk ke dalam trance. Di situlah kata-kata kita menjadi sebuah terapi, bukan sekadar obrolan yang menimbulkan resistensi.
Ingat baik-baik: hipnoterapi dimulai bukan dari kehebatan bicara, melainkan dari kemampuan mendengar. Semakin kita mampu hadir, mendengar, dan menerima, semakin mudah klien membuka diri. Dan ketika klien terbuka, barulah keajaiban terapi benar-benar terjadi.
Coach Risman Aris, BCH, CSHt®, CI
Pakar Hipnoterapi & Generasi Kedua Milton H. Erickson