Dalam dunia terapi, kita sering bertemu kasus yang terlihat sederhana di permukaan,
Namun ternyata menyimpan cerita yang dalam. Seperti remaja ini, anak tunggal dari keluarga yang secara ekonomi sangat mampu. Ayahnya seorang polisi, ibunya seorang dokter kandungan.
Apa pun yang ia inginkan, hampir selalu dipenuhi. Ia punya PS5, Nintendo, ART di rumah, les setiap hari hingga malam, bahkan malam minggu khusus dijadikan quality time keluarga.
Tapi yang mengherankan, sejak kelas 5 SD ia mulai mencuri. Dan kini, meskipun sudah duduk di bangku kelas 1 SMA, kebiasaan itu belum juga berhenti. Saat ibunya menghubungi saya, ia berkata anaknya mau diterapi. Namun, ketika tiba di hadapan saya, yang saya temukan adalah seorang remaja yang menolak keras untuk diterapi.
Ia enggan berbicara, menolak berinteraksi. Belakangan saya tahu bahwa ternyata ia dipaksa datang, dan ibunya hanya berkata “ia bersedia” agar saya mau menerimanya.
Dalam kondisi seperti ini, saya tidak bisa menggunakan pendekatan hipnoterapi langsung. Maka saya memilih menggunakan pendekatan Ericksonian Hypnosis, pendekatan yang tidak memaksa, tapi justru membangun kepercayaan lewat percakapan biasa.
Perlahan-lahan, saya mengajak bicara, menyisipkan cerita, bertanya hal-hal kecil, dan menciptakan ruang yang aman bagi dirinya. Hingga akhirnya, ia bersedia untuk menjalani sesi terapi.
Hasil yang muncul dari proses regresi usianya sangat menarik. Saya menemukan bahwa selama ini, anak ini sebenarnya bukan mencuri karena kebutuhan materi. Ia tidak butuh barang-barang itu, semuanya sudah tersedia di rumah.
Yang ia butuhkan ternyata adalah perhatian, terutama dari sang ayah. Ia pernah melihat ayahnya begitu bersemangat menceritakan pengalaman mengejar dan menangkap pencuri.
Dari situlah, anak ini mulai membuat kesimpulan dalam pikirannya: “Kalau aku ingin diperhatikan ayah, aku harus jadi pencuri juga.” Sebuah kesimpulan yang keliru, tapi bisa dimengerti jika dilihat dari sudut pandang seorang anak kecil yang merindukan sosok ayahnya.

Lebih dari itu, saya juga menemukan bahwa hidupnya sangat padat akan rutinitas. Ia bersekolah sampai sore, lalu dilanjutkan dengan les sampai malam. Waktu bermain hampir tidak ada. Rumah yang besar dan mewah justru terasa sepi. Ia merasa sendiri, meskipun dikelilingi fasilitas yang cukup.
Hari-harinya penuh dengan jadwal yang padat, tapi kosong dari sisi kehangatan emosional. Dengan berbagai indirect suggestions, saya membantu anak ini melihat bahwa ada cara lain untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang.
Ia mulai menyadari bahwa ia bisa bicara langsung, bisa menunjukkan perasaan, tanpa harus membuat masalah dulu. Sebulan setelah sesi itu, ibunya kembali menghubungi saya. Kali ini dengan nada yang lega.
Ia mengatakan bahwa anaknya sudah tidak lagi mencuri. Tidak ada lagi perilaku onar. Bahkan, anaknya mulai lebih terbuka dan beberapa kali justru mengajak ibunya untuk menghabiskan waktu bersama.
Dari kisah ini, Apa yang bisa kita pelajari ?
Coach Risman Aris, BCH, CSHt®, CI
Pakar Hipnoterapi & Generasi Kedua Milton H. Erickson
www.rismanaris.com