.
Tadi salah satu alumni saya mengajukan pertanyaan menarik setelah membaca status di Facebook seorang praktisi hipnoterapi.
Pertanyaannya sederhana tapi sangat dalam, “Saat dilakukan regresi hipnotik, siapa sesungguhnya yang mengalami regresi, klien ataukah Ego Personality (EP)?”
Pertanyaan ini kemudian berkembang, Bila yang diregresi adalah EP, bagaimana prosesnya? Apakah EP mundur menyusuri garis waktu dan menjadi dirinya yang lebih muda? Ataukah EP tidak mundur, melainkan terhubung dengan EP yang lebih muda melalui jalur afek spesifik?
Bila yang diregresi adalah klien, bagaimana mungkin ketika ia mendarat di masa lalu, yang muncul justru introjek atau EP bermasalah, bukan dirinya yang lebih muda?

Saya sendiri tidak tahu teori apa yang digunakan praktisi yang menulis status tersebut. Tetapi bila kita meninjau dari perspektif Ego State Therapy (EST) ala Gordon Emerson yang diimplementasi dalam dunia hipnosis, Maka mekanismenya bisa dipahami seperti ini.
Dalam diri setiap orang terdapat banyak ego state.
Pada satu waktu tertentu, hanya satu ego state yang bisa in executive control, artinya ia yang memegang setir penuh atas pikiran, perasaan, dan perilaku klien saat itu. Ego state lain tetap ada, lengkap dengan memori, afek, dan program perilaku mereka masing-masing, tetapi berada pada posisi non-executive, Ibarat penumpang di kursi belakang.
Mudahnya lagi, bayangkan pikiran bawah sadar kita seperti sebuah komputer dengan banyak akun user. Hanya satu akun yang bisa login (in executive control).
Akun lain tetap ada, lengkap dengan file, setting, dan history masing-masing, hanya saja tidak sedang digunakan (non-executive). Ketika terapis melakukan regresi, maka ego state yang sedang in executive control dapat:
- Mengakses kembali memori lamanya sendiri, Seolah ia mundur ke masa lalu dan menghidupkan kembali pengalaman itu.
- Contohnya, bagian diri yang takut ditolak bisa kembali ke memori saat usia 10 tahun ditertawakan teman.
- Terhubung dengan ego state lain yang lebih muda atau yang menyimpan afek tertentu
- Jadi ia tidak benar-benar “mundur”, tetapi mengambil jalur pintas ke bagian diri lain yang membawa emosi atau pengalaman spesifik.
Contoh, yang muncul bukan anak usia 7 tahun utuh, tapi hanya bagian diri yang berisi rasa malu yang mendalam. Karena itu, wajar bila yang muncul dalam regresi bukan “klien kecil” sepenuhnya, melainkan ego state/introjek yang memang menyimpan memori atau emosi tertentu dari masa lalu.
Dengan memahami ini, pekerjaan kita bukan sekadar membawa ego state kembali ke masa lalu, Tetapi juga memodifikasi strategi lama yang disfungsional.
Tugas terapis adalah membantu ego state menemukan atau menerima coping strategy baru yang lebih sehat dan kondusif untuk kehidupan klien saat ini. Kalau hal ini tidak dilakukan,
Maka ada risiko ego state lama dengan pola disfungsional akan kembali in executive control di situasi tertentu, yang memicu relapse. Ibaratnya, mematikan alarm asap tanpa memadamkan apinya. Cepat atau lambat, alarm itu berbunyi lagi. Uraian ini juga menjawab fenomena yang sering membingungkan peserta pelatihan.
Mereka kadang heran, ketika melakukan regresi, mengapa bukan “klien kecil” yang muncul, Melainkan bagian diri tertentu dengan emosi kuat atau introjek dari orang lain?
Dalam kasus yang lebih kompleks, seperti Dissociative Identity Disorder (DID), spektrum aktivitas ego state bisa jauh lebih luas. Kita bisa menjumpai dari sekadar suara anak kecil di dalam diri, hingga identitas penuh dengan gaya bicara, gestur, bahkan memori berbeda,
Misalnya muncul sebagai “Mak Lampir”, “raja hutan”, atau “singa”, “siluman ular” dll. Semua itu tetaplah ego state yang tampil penuh, seolah-olah menjadi identitas berbeda.
Jadi kerangka Ego State Therapy ala Gordon Emerson, pertanyaan “siapa yang diregresi?” menjadi lebih jelas: Yang diregresi adalah ego state yang sedang in executive control, dan dalam prosesnya ia bisa, Mengalami masa lalunya sendiri, atau tersambung dengan ego state lain yang menyimpan jalur memori-afek spesifik.
Pemahaman ini memberi arah praktis dalam melakukan terapi, Sekaligus membantu menjelaskan fenomena yang muncul di ruang praktik tanpa kebingungan.
Coach Risman Aris, BCH, CSHt®, CI
Pakar Hipnoterapi & Generasi Kedua Milton H. Erickson