Polemik definisi hipnosis dari American Psychology Association yang akhirnya mendapatkan kesimpulan terkait definisi hipnosis itu sendiri. Definisi Hpnosis merupakan sebuah fenomena yang menarik dan kompleks yang telah menarik perhatian para peneliti dan praktisi selama bertahun-tahun. . Meskipun definisi dan mekanismenya masih menjadi perdebatan yang terus berlanjut namun hipnosis memiliki potensi besar untuk digunakan dalam berbagai bidang, termasuk terapi klinis dan penelitian ilmiah.

Pada tahun 2015, Asosiasi Psikologis Amerika (American Psychological Association) (APA) Divisi 30 meluncurkan definisi hipnosis baru yang memicu berbagai kritik. Definisi ini, yang menyatakan hipnosis sebagai “kondisi kesadaran yang melibatkan perhatian terfokus dan penurunan kesadaran perifer yang ditandai dengan peningkatan respons terhadap sugesti”, dinilai terlalu luas dan kurang didasarkan pada bukti ilmiah.
Kritik terhadap Definisi Baru Hipnosis
- Kekurangan landasan ilmiah: Definisi baru ini belum didukung oleh penelitian yang memadai dan tidak menjelaskan secara jelas mekanisme yang mendasari hipnosis.
- Kurang spesifik: Definisi ini tidak membedakan antara hipnosis dan kondisi serupa lainnya, seperti meditasi dan relaksasi.
- Berpotensi menyesatkan: Definisi ini dapat memicu kesalahpahaman bahwa hipnosis adalah “keadaan” khusus yang terpisah dari realitas, padahal hipnosis lebih cenderung terkait dengan proses kognitif dan sosial-kognitif.
- Hipnosis: Lebih dari Sekedar “Keadaan” yang dimaksud
Definisi Harus Kompregensif
Kritik-kritik tersebut menekankan pada perlunya definisi hipnosis yang lebih komprehensif dan mempertimbangkan kompleksitas pada fenomena ini. Hipnosis bukan semata-mata “keadaan” khusus, melainkan sebuah proses yang melibatkan berbagai faktor, seperti:
- Perhatian terfokus: Seseorang yang berada dalam kondisi hipnosis cenderung fokus pada sugesti yang diberikan dan mengabaikan rangsangan eksternal.
- Meningkatnya respons terhadap sugesti: Seseorang dalam keadaan hipnosis lebih mudah menerima dan sugesti yang diberikan, baik secara verbal maupun non-verbal.
- Ekspektasi dan kepercayaan: Ekspektasi dan kepercayaan seseorang tentang hipnosis memainkan peran penting dalam pengalaman mereka.
- Proses kognitif dan sosial-kognitif: Hipnosis menggunakan berbagai proses kognitif, seperti imajinasi, memori, dan persepsi, serta proses sosial-kognitif, seperti pengaruh sosial dan konformitas.
- Hipnoterapi: Memanfaatkan kondisi Hipnosis untuk Penyembuhan berbagai gangguan psikis dan mental
Hipnoterapi adalah aplikasi hipnosis dalam konteks terapeutik untuk membantu seseorang mengatasi berbagai masalah psikologis dan medis. Hipnoterapi telah terbukti efektif dalam berbagai kondisi, seperti:
- Kecemasan dan depresi: Hipnoterapi dapat membantu meredakan gejala kecemasan dan depresi, meningkatkan relaksasi, dan meningkatkan mood.
- Nyeri kronis: Hipnoterapi dapat membantu mengelola nyeri kronis dengan mengurangi persepsi nyeri dan meningkatkan coping skills.
- Fobia: Hipnoterapi dapat membantu seseorang mengatasi fobia dengan mengekspos mereka pada situasi yang ditakuti secara bertahap dalam imajinasi mereka.
- Kebiasaan buruk: Hipnoterapi dapat membantu seseorang mengubah kebiasaan buruk dengan memperkuat motivasi dan mengubah pola pikir.
Pentingnya Definisi yang Tepat dalam Hipnosis dan Hipnoterapi
Definisi hipnosis yang lebih akurat dan komprehensif sangat penting untuk beberapa alasan:
- Definisi yang jelas memungkinkan penelitian tentang hipnosis untuk dilakukan dengan lebih sistematis dan terukur.
- Definisi yang tepat membantu praktisi hipnoterapi untuk memahami fenomena ini dengan lebih baik dan menerapkan teknik yang tepat dalam membantu klien mereka.
- Definisi yang jelas membantu masyarakat awam memahami hipnosis dan hipnoterapi dengan lebih baik, sehingga mengurangi stigma dan meningkatkan kepercayaan terhadap terapi ini.
Berdasarkan Teori Hipnosis
Para ilmuwan yang mempelajari hipnosis terus berusaha untuk memahami cara kerjanya dengan berbagai teori, seperti:
- Teori Neodisosiasi (Hilgard, 1973): Hipnosis memicu pemisahan fungsi kognitif, menghasilkan “pikiran tersembunyi” yang mampu menerima sugesti.
- Teori Sosiokognitif (Spanos, 1991): Hipnosis merupakan fenomena sosial, di mana seseorang memainkan peran sesuai ekspektasi terhadap situasi hipnotis.
- Teori Pengharapan Respon (Kirsch, 1985): Hipnosis terjadi karena ekspektasi seseorang terhadap respon yang diharapkan dalam situasi hipnotis.
- Teori Kontrol Terdisosiasi (Woody dan Bower, 1994): Hipnosis melibatkan dua sistem kontrol: sistem sadar dan sistem bawah sadar. Sugesti hipnotis menembus sistem sadar dan diproses oleh sistem bawah sadar.
Mencari Definisi Hipnosis yang Tepat
Pada tahun 2003, APA Divisi 30 melangkah maju dengan mendefinisikan hipnosis sebagai prosedur yang digunakan dalam penelitian dan praktik klinis (Green et al., 2005, p.262). Berikut definisinya :
Hypnosis typically involves the introduction of a procedure in which subjects are informed about the provision of suggestions for imaginative experiences. The hypnotic induction is a continuation of the initial suggestion to use one’s imagination, and may contain further elaboration from the initial explanation. Hypnosis procedures are used to encourage and assess responses to suggestions. When using hypnosis, one person (the subject) is guided by another person (the hypnotist) to respond to suggestions for changes in subjective experience, perception, sensation, emotion, thought, or behavior.
Individuals can also learn self-hypnosis, which is the act of performing hypnosis procedures on oneself. If the subject responds to hypnotic suggestions, it is generally concluded that hypnosis has occurred. Many believe that responsive and hypnotic experiences are characteristic of the hypnotic condition. Some people think that it is unnecessary to use the word hypnosis as part of the hypnotic induction, while others see this as essential.
Selanjutnya…
Details of hypnotic procedures and suggestions will vary depending on the practitioner’s goals and the objectives of clinical or research efforts. Traditionally, hypnosis procedures involve suggestions to become relaxed, although relaxation is not a prerequisite for hypnosis, and a variety of suggestions can be used including suggestions to become more alert.
Suggestions allowing the extent to which hypnosis is assessed by comparing responses to standard scales can be used in both clinical and research domains.
While the majority of individuals are responsive to at least some suggestions, scores on standard scales range from high to negligible. Traditionally, scores are grouped into low, moderate, and high categories. As with other positive psychological construct measures such as attention and awareness, the significance of evidence for achieving the hypnotic condition increases in line with individual scores.
Beberapa hal penting terkait definisi diatas
Hipnosis adalah saat seseorang diarahkan untuk membayangkan sesuatu dengan jelas. Ini diikuti dengan serangkaian langkah, disebut induksi hipnotik, yang bertujuan untuk mengukur bagaimana seseorang merespons saran tersebut. Hipnotis akan membimbing subjek untuk merespons, mempengaruhi perubahan dalam pikiran, perasaan, dan perilaku mereka.
Ada juga hal yang disebut swahipnosis, di mana seseorang belajar untuk melakukan hipnosis pada diri sendiri. Respons seseorang terhadap saran menjadi petunjuk utama apakah hipnosis berhasil atau tidak. Meskipun sering diasosiasikan dengan rileksasi, sugesti hipnosis tidak selalu harus membuat seseorang rileks. Hasil dari evaluasi ini bergantung pada seberapa baik seseorang merespons, dan tidak selalu harus mencapai tingkat tertentu. Langkah-langkah dan saran-saran dalam hipnosis bervariasi tergantung pada tujuan praktisi dan apa yang ingin mereka capai.
Hypnosis Definition Committee (HDC)
Pada tahun 2013, Dr. Arreed Barabasz, selaku presiden Divisi 30 APA, menugaskan komite baru yang dikenal sebagai Hypnosis Definition Committee (HDC) untuk merevisi definisi hipnosis. Komite ini terdiri dari Gary R. Elkins (Ketua), David Spiegel, James R. Council, dan Arreed F. Barabasz.
Setelah menerima banyak masukan dari berbagai sumber, pada tanggal 24 Maret 2014, HDC (APA Divisi 30) berhasil mencapai konsensus dan merumuskan definisi hipnosis yang baru:
“Hipnosis adalah kondisi kesadaran yang melibatkan perhatian terfokus dan penurunan kesadaran perifer yang ditandai dengan peningkatan respons terhadap sugesti.” (Elkins dkk, 2015, p.6)
Bagaimana Teori Neodisosiasi menjelaskan fenomena pikiran tersembunyi selama hipnosis?
Teori Neodisosiasi menjelaskan bahwa saat hipnosis, kesadaran dapat terpisah menjadi bagian-bagian yang bekerja sendiri-sendiri.
Ini menyebabkan adanya “pikiran tersembunyi” (hidden observer)—bagian dari pikiran yang tetap sadar akan sensasi atau pengalaman, meskipun kesadaran utama tidak menyadarinya.
Contoh: Seseorang yang diberi sugesti untuk tidak merasakan sakit dapat merendam tangannya dalam air es tanpa melaporkan rasa sakit. Namun, bagian tersembunyi dari pikirannya sebenarnya masih “merasakan” nyeri tersebut, meskipun orang itu tidak menyadarinya secara penuh.