Efektifkah Hipnoterapi pada Bipolar ?

Pendahuluan

Gangguan bipolar (Bipolar Disorder, BD) merupakan salah satu gangguan psikiatri mayor yang ditandai dengan fluktuasi suasana hati ekstrem antara episode mania/hipomania dan depresi. Kondisi ini bukan sekadar perubahan mood biasa, melainkan pergeseran emosional yang begitu drastis sehingga memengaruhi kognisi, perilaku, relasi sosial, hingga fungsi sehari-hari. Prevalensi BD diperkirakan berkisar antara 1–2% di populasi umum, dengan onset umumnya pada usia remaja akhir hingga dewasa muda. Dampaknya sangat signifikan, mulai dari penurunan kualitas hidup, gangguan fungsi sosial-ekonomi, disabilitas jangka panjang, hingga meningkatnya risiko bunuh diri, bahkan angka kematian akibat bunuh diri pada pasien BD dilaporkan 20 kali lebih tinggi dibanding populasi umum (Grande et al., 2016).

Dalam praktik klinis, pengobatan BD umumnya berbasis farmakoterapi seperti stabilisator suasana hati (litium, valproat), antipsikotik atipikal, dan antidepresan pada kondisi tertentu. Meski demikian, keterbatasan farmakoterapi masih menjadi tantangan, antara lain karena efek samping, ketidakpatuhan pasien, serta variasi respons yang sangat dipengaruhi faktor genetik dan neurobiologis. Oleh karena itu, pendekatan non-farmakologis mulai mendapat perhatian lebih luas, baik berupa psikoterapi kognitif-perilaku, terapi keluarga, mindfulness, hingga hipnoterapi.

Hipnoterapi, sebagai salah satu bentuk intervensi psikoterapeutik, memanfaatkan kondisi kesadaran terfokus (trance) untuk memfasilitasi perubahan kognitif, emosional, dan perilaku melalui sugesti terarah. Dalam konteks gangguan emosional seperti kecemasan, trauma, maupun nyeri kronis, sejumlah penelitian menunjukkan efektivitas hipnoterapi dalam menurunkan tingkat stres, meningkatkan regulasi diri, dan memperbaiki fungsi psikologis. Mekanisme kerja hipnoterapi diduga berkaitan dengan modulasi aktivitas limbik, peningkatan regulasi prefrontal terhadap emosi, serta penurunan aktivitas simpatis yang berhubungan dengan stres fisiologis.

Namun demikian, efektivitas hipnoterapi pada BD masih menjadi perdebatan akademik. Hal ini tidak terlepas dari kompleksitas neurobiologi BD yang melibatkan perubahan struktur otak (atrofi fronto-limbik, penipisan korteks), disregulasi neurotransmiter (dopamin, GABA, serotonin, noradrenalin), gangguan konektivitas fungsional, serta predisposisi genetik yang kuat. Kompleksitas tersebut menyebabkan BD tidak dapat dipandang hanya sebagai gangguan psikologis, melainkan gangguan neuropsikiatri poligenik dengan basis biologis yang signifikan.

Dengan demikian, pertanyaan utama yang muncul adalah: sejauh mana hipnoterapi dapat bekerja pada pasien BD, mengingat adanya kerusakan struktural dan disregulasi neurokimia yang mungkin membatasi fleksibilitas otak dalam menerima dan menginternalisasi sugesti? Tulisan ini bertujuan membahas perubahan struktur dan fungsi otak pada BD, keterlibatan neurotransmiter dan faktor genetik, serta mengkaji implikasinya terhadap potensi dan keterbatasan hipnoterapi. Analisis ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih seimbang mengenai peluang dan batasan penggunaan hipnoterapi pada pasien BD, sekaligus menegaskan perlunya integrasi dengan pendekatan medis konvensional.

Perubahan Struktur Otak pada Bipolar Disorder

Sejumlah penelitian neuroanatomi menunjukkan bahwa gangguan bipolar (BD) berkaitan erat dengan perubahan struktural otak yang konsisten, khususnya pada jaringan yang terlibat dalam regulasi emosi, fungsi eksekutif, dan integrasi kognitif. Analisis berbasis Voxel-Based Morphometry (VBM) melaporkan adanya atrofi selektif pada jaringan fronto-limbik, termasuk penurunan volume materi abu-abu di korteks prefrontal superior bilateral, korteks cingulate anterior kiri, dan insula kanan (Wang et al., 2019). Temuan ini menunjukkan bahwa pusat kendali eksekutif (prefrontal cortex) dan pusat integrasi emosi (anterior cingulate dan insula) mengalami kerusakan struktural yang dapat mengganggu keseimbangan antara pemrosesan kognitif dan emosional.

Studi berskala besar yang dilakukan oleh konsorsium ENIGMA Bipolar Disorder Working Group (melibatkan 6503 individu) memperkuat hasil tersebut dengan temuan penipisan korteks di berbagai wilayah, terutama area frontal, temporal, dan parietal. Beberapa daerah yang paling signifikan antara lain pars opercularis kiri, gyrus fusiform kiri, dan korteks frontal tengah rostral kiri (Hibar et al., 2018). Penipisan korteks pada area frontal terkait erat dengan berkurangnya fungsi pengendalian impuls dan pengaturan suasana hati, sementara perubahan pada area temporal dan parietal dapat memengaruhi persepsi sosial serta integrasi informasi emosional.

Selain perubahan pada korteks, hippocampus dan amigdala, dua struktur utama sistem limbik, dilaporkan mengalami penyusutan pada pasien BD. Hippocampus berperan penting dalam pembentukan memori dan integrasi pengalaman emosional, sedangkan amigdala merupakan pusat deteksi rangsangan emosional dan regulasi respons afektif. Penyusutan kedua struktur ini merefleksikan disfungsi pada sirkuit limbik-prefrontal, yang menjadi dasar kesulitan pasien BD dalam menstabilkan emosi, mengatur respons stres, serta membentuk strategi koping yang adaptif.

Implikasi bagi Hipnoterapi

Hipnoterapi pada dasarnya bekerja dengan mengoptimalkan fokus atensi, daya imajinasi, dan proses regulasi emosional yang sebagian besar dimediasi oleh interaksi antara korteks prefrontal dan sistem limbik. Dalam kondisi otak yang sehat, hipnoterapi dapat membantu mengaktifkan mekanisme plastisitas saraf (neuroplasticity) untuk memodifikasi asosiasi emosional, menurunkan hiperaktivitas limbik, serta memperkuat kontrol kognitif prefrontal terhadap emosi.

Namun, pada pasien BD, keberadaan atrofi fronto-limbik dan penipisan kortikal dapat mengurangi fleksibilitas neurokognitif dan kapasitas integrasi emosi. Hal ini berpotensi membuat sebagian pasien kurang responsif terhadap sugesti hipnotik, terutama dalam fase mania atau depresi berat ketika aktivitas limbik sangat mendominasi. Dengan kata lain, meskipun hipnoterapi dapat berfungsi sebagai intervensi komplementer untuk relaksasi dan pengelolaan stres, efektivitasnya sangat bergantung pada tingkat kerusakan struktural otak serta fase penyakit yang sedang dialami pasien.

Keterlibatan Neurotransmiter

Gangguan bipolar (BD) secara konsisten dikaitkan dengan disregulasi berbagai sistem neurotransmiter, terutama dopamin, serotonin, noradrenalin, dan GABA. Kompleksitas perubahan ini mencerminkan dasar biologis fluktuasi suasana hati yang dialami pasien, mulai dari fase mania hingga depresi.

Dopamin

Dopamin merupakan mediator utama dalam regulasi reward, motivasi, dan energi psikomotor. Pada pasien BD, kadar dopamin meningkat secara signifikan selama episode mania dan justru menurun pada episode depresi. Bukti biokimia menunjukkan bahwa homovanillic acid (HVA), metabolit dopamin dalam cairan serebrospinal (CSF), mengalami fluktuasi searah dengan gejala: menurun pada fase depresi dan meningkat pada fase mania (Lee et al., 2022). Hal ini mendukung hipotesis bahwa hipersensitivitas reseptor dopamin atau disregulasi jalur mesolimbik berkontribusi pada siklus gejala.

Serotonin dan Noradrenalin

Selain dopamin, neurotransmiter monoamin lain seperti serotonin (5-HT) dan noradrenalin (NA) juga berperan penting. Penurunan aktivitas serotonin sering dikaitkan dengan gejala depresi seperti disforia, anhedonia, dan kerentanan bunuh diri, sedangkan perubahan pada sistem noradrenalin berhubungan dengan gangguan motivasi, konsentrasi, serta peningkatan respons terhadap stres. Interaksi antara dopamin, serotonin, dan noradrenalin membentuk “jaringan monoamin” yang sangat menentukan dinamika mood pada pasien BD.

GABA

GABA (gamma-aminobutyric acid) adalah neurotransmiter inhibitorik utama yang berfungsi menjaga keseimbangan eksitasi di otak. Pada pasien dengan depresi bipolar, kadar GABA cenderung lebih rendah dibandingkan individu sehat. Studi menunjukkan bahwa penggunaan litium atau valproat sebagai stabilisator mood mampu meningkatkan aktivitas GABAergik, yang kemudian berkontribusi pada stabilisasi suasana hati dan pengurangan hiperaktivitas neuronal (Lee et al., 2022). Dengan demikian, rendahnya GABA pada BD menggambarkan lemahnya kontrol inhibitorik terhadap hiperaktivitas limbik dan prefrontal yang berperan dalam disfungsi emosi.

Implikasi bagi Hipnoterapi

Hipnoterapi bekerja melalui relaksasi mendalam dan fokus terarah, kondisi yang dapat memodulasi sistem saraf otonom serta memengaruhi neurokimia otak. Sejumlah studi pada praktik relaksasi dan meditasi menemukan peningkatan aktivitas GABAergik serta penurunan aktivitas simpatis yang berhubungan dengan stres fisiologis (Kjaer et al., 2002). Artinya, hipnoterapi berpotensi memberikan efek penyeimbang dengan cara menurunkan hiperaktivitas otak dan memperkuat mekanisme inhibisi.

Namun demikian, efektivitas ini sangat dipengaruhi oleh tingkat disregulasi neurotransmiter pada pasien. Pada kasus mania berat, di mana dopamin melonjak drastis dan menghasilkan hiperaktivitas limbik yang dominan, efek sugesti hipnotik mungkin menjadi minimal atau tidak stabil. Hal ini terjadi karena kekuatan sugesti kognitif dalam hipnoterapi masih kalah oleh dominasi proses neurokimia yang bersifat otomatis dan patologis.

Dengan kata lain, hipnoterapi berpotensi membantu pasien BD terutama dalam fase eutimik atau depresi ringan-sedang, dengan cara menurunkan hiperaktivitas simpatis, meningkatkan keseimbangan GABA, serta mendukung regulasi emosi. Akan tetapi, pada fase akut mania atau depresi berat dengan disregulasi neurotransmiter ekstrem, hipnoterapi sebaiknya dianggap sebagai intervensi tambahan dan bukan terapi utama.

Temuan Neuroimaging Fungsional

Perkembangan teknologi neuroimaging fungsional seperti fMRI dan PET telah memungkinkan pemahaman lebih mendalam mengenai pola aktivitas otak pada pasien gangguan bipolar (BD). Secara umum, hasil penelitian konsisten menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara hiperaktivitas sistem limbik (khususnya amigdala) dan hipoaktivitas regulasi kortikal (khususnya prefrontal cortex).

Hiperaktivitas Amigdala

Salah satu temuan yang paling konsisten adalah adanya hiperaktivitas amigdala dalam merespons rangsangan emosional, baik selama fase mania maupun depresi. Amigdala merupakan pusat deteksi ancaman dan pengolahan emosi negatif/positif yang kuat, sehingga hiperaktivitasnya dapat menjelaskan fenomena emosi yang intens, labil, dan sulit dikendalikan pada pasien BD. Aktivasi yang berlebihan ini terjadi meski stimulus emosional tidak relevan secara kontekstual, menandakan adanya kesulitan otak dalam memfilter informasi emosional (Schumer et al., 2023).

Disfungsi Default Mode Network (DMN)

Selain hiperaktivitas limbik, pasien BD juga mengalami gangguan pada Default Mode Network (DMN), yaitu jaringan otak yang aktif saat istirahat dan berhubungan dengan proses refleksi diri, imajinasi, serta regulasi emosional internal. Disfungsi paling jelas ditemukan di posterior cingulate cortex (PCC). Abnormalitas pada DMN dapat menjelaskan fenomena pikiran berulang (ruminasi), gangguan konsentrasi, dan ketidakmampuan melepaskan diri dari stimulus internal yang maladaptif pada pasien BD.

Abnormalitas pada Tugas Kognitif Non-Emosional

Selain itu, penelitian fMRI pada tugas non-emosional menemukan abnormalitas aktivitas di lobus parietal inferior (IPL), lobus parietal superior (SPL), serta orbitofrontal medial kiri. Abnormalitas ini mengindikasikan adanya defisit dalam perhatian eksekutif, perencanaan, serta pengambilan keputusan, sehingga pasien BD tidak hanya mengalami gangguan regulasi emosi tetapi juga penurunan fungsi kognitif yang berhubungan dengan kontrol diri.

Integrasi Temuan Neuroimaging

Secara ringkas, neuroimaging menegaskan adanya ketidakharmonisan antara “sistem emosi” (amigdala/limbik) dengan “sistem kontrol” (prefrontal, parietal, dan DMN). Ketidakseimbangan ini menciptakan kondisi di mana emosi menjadi dominan sementara kemampuan regulasi kognitif melemah, menghasilkan pola fluktuasi suasana hati khas BD.

Implikasi bagi Hipnoterapi

Hipnoterapi bekerja dengan memanfaatkan kondisi fokus terarah dan relaksasi mendalam untuk mengalihkan dominasi aktivitas dari jaringan emosional menuju regulasi kortikal. Melalui proses sugesti dan guided imagery, hipnoterapi dapat membantu menurunkan hiperaktivitas limbik (khususnya amigdala) dan menguatkan konektivitas prefrontal yang berfungsi sebagai pengendali emosi.

Namun, bila terjadi disfungsi konektivitas fronto-limbik yang parah, efektivitas hipnoterapi dapat menurun. Dengan kata lain, semakin besar kerusakan atau kelemahan regulasi prefrontal, semakin sulit bagi sugesti hipnotik untuk menstabilkan respon emosional patologis. Hal ini terutama terlihat pada fase mania berat, di mana hiperaktivitas limbik terlalu dominan untuk dikompensasi oleh intervensi sugestif.

Dengan demikian, hipnoterapi paling potensial diterapkan pada fase remisi atau depresi ringan-sedang, ketika terdapat cukup stabilitas jaringan prefrontal-parietal untuk menerima, mengolah, dan menginternalisasi sugesti terapeutik. Dalam kondisi tersebut, hipnoterapi dapat membantu pasien meningkatkan kontrol diri, memperkuat regulasi emosi, serta menurunkan kecenderungan ruminasi maladaptif.

Faktor Genetik

Gangguan bipolar (BD) termasuk salah satu kondisi psikiatri dengan tingkat heritabilitas tertinggi, diperkirakan mencapai 60–85% berdasarkan studi keluarga, kembar, dan adopsi (O’Connell et al., 2021). Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi faktor genetik terhadap kerentanan BD jauh lebih besar dibandingkan sebagian besar gangguan kejiwaan lainnya.

Gen Kandidat Utama

Beberapa gen kandidat yang paling konsisten ditemukan terkait BD antara lain:

  • CACNA1C
    Gen ini mengkode subunit kanal kalsium tipe L, yang berperan penting dalam regulasi eksitabilitas neuron, pelepasan neurotransmiter, dan plastisitas sinaptik. Variasi pada CACNA1C dikaitkan dengan perubahan aktivitas korteks prefrontal dan amigdala, dua wilayah kunci dalam regulasi emosi.
  • ANK3
    ANK3 mengkode protein ankyrin-G, yang menjaga stabilitas membran neuron serta integritas koneksi aksonal. Polimorfisme ANK3 berhubungan dengan disregulasi impulsivitas dan kestabilan mood.
  • ODZ4 dan SYNE1
    Studi Genome-Wide Association Studies (GWAS) juga mengidentifikasi gen lain seperti ODZ4 dan SYNE1 yang terkait dengan perkembangan otak, sinaptogenesis, dan regulasi sirkuit emosional.
Dampak Genetik terhadap Kerentanan Neurobiologis

Variasi genetik ini tidak bekerja secara terisolasi, melainkan berinteraksi dengan faktor lingkungan (misalnya stres psikososial) sehingga memengaruhi:

  • Kerentanan terhadap disregulasi neurotransmiter (dopamin, serotonin, GABA).
  • Disfungsi sirkuit fronto-limbik, yang berperan dalam deteksi emosi dan pengendalian kognitif.
  • Respons terhadap farmakoterapi, misalnya litium atau antiepileptik.

Dengan demikian, genetik berfungsi sebagai predisposisi biologis yang membentuk lanskap kerentanan pasien terhadap fluktuasi mood ekstrem.

Implikasi bagi Hipnoterapi

Faktor genetik dapat menjadi batasan natural terhadap efektivitas hipnoterapi. Karena predisposisi genetik memengaruhi plastisitas neuropsikologis, pasien dengan profil risiko tinggi mungkin lebih sulit mempertahankan stabilitas mood meskipun sudah diberikan intervensi sugestif.

Artinya, hipnoterapi tidak dapat mengubah faktor genetik bawaan, tetapi dapat berperan sebagai modulator sekunder dengan cara:

  • Mengurangi dampak stres lingkungan yang sering kali menjadi pencetus episode pada individu dengan kerentanan genetik.
  • Memperkuat mekanisme koping kognitif-emosional yang masih tersedia meski ada hambatan biologis.
  • Membantu meningkatkan kepatuhan pengobatan (misalnya dengan sugesti positif terkait konsumsi obat atau gaya hidup sehat), yang pada akhirnya menyeimbangkan disfungsi biologis akibat faktor genetik.

Dengan demikian, hipnoterapi pada pasien BD dengan predisposisi genetik kuat sebaiknya diposisikan sebagai komplementer, bukan substitusi farmakoterapi.

Potensi dan Batasan Hipnoterapi pada Gangguan Bipolar

Hipnoterapi, sebagai salah satu bentuk intervensi psikoterapeutik berbasis sugesti, memiliki sejumlah potensi manfaat ketika digunakan secara hati-hati pada pasien dengan gangguan bipolar (BD). Beberapa kontribusi positif yang telah dicatat antara lain:

  1. Reduksi stres dan ansietas
    Hipnoterapi dapat menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis, yang pada gilirannya menurunkan kadar hormon stres (kortisol) dan meningkatkan rasa relaksasi. Efek ini penting karena stres merupakan salah satu pencetus utama kekambuhan pada BD.
  2. Peningkatan regulasi emosi
    Melalui teknik imagery dan sugesti terapeutik, hipnoterapi dapat membantu menenangkan hiperaktivitas amigdala serta memperkuat regulasi top-down dari korteks prefrontal. Hal ini bermanfaat khususnya pada fase depresi atau masa remisi, ketika pasien relatif lebih reseptif terhadap intervensi psikologis.
  3. Meningkatkan kepatuhan pengobatan
    Sugesti post-hipnotik dapat difokuskan untuk memperkuat rutinitas sehari-hari, termasuk kepatuhan mengonsumsi obat sesuai anjuran psikiater. Mengingat kepatuhan obat adalah faktor kunci dalam pencegahan kekambuhan, hipnoterapi bisa berperan sebagai penunjang terapi medis.
  4. Dukungan psikoterapi tambahan
    Pada pasien dengan gejala depresi ringan, hipnoterapi dapat membantu meningkatkan self-efficacy, mengurangi pikiran negatif berulang, dan memperkuat mekanisme koping adaptif.

Batasan Hipnoterapi

Meskipun potensial, hipnoterapi pada pasien BD tidak bebas dari keterbatasan. Beberapa hal yang perlu dicermati:

  • Episode mania akut
    Pada fase mania berat, pasien biasanya sulit fokus, mudah terdistraksi, dan cenderung tidak responsif terhadap sugesti. Kondisi ini membuat hipnoterapi hampir tidak mungkin diterapkan secara efektif.
  • Perubahan struktural otak
    Atrofi pada hippocampus dan amigdala, sebagaimana ditemukan dalam studi neuroanatomi, menurunkan kapasitas neuroplastisitas. Hal ini dapat membatasi efektivitas internalisasi sugesti yang menjadi inti proses hipnoterapi.
  • Disregulasi dopamin ekstrem
    Pada fase mania atau depresi berat, fluktuasi dopamin yang sangat ekstrem dapat “mengalahkan” modulasi psikologis yang diperoleh melalui hipnoterapi. Dalam kondisi ini, intervensi farmakologis jauh lebih mendesak.
  • Faktor genetik
    Predisposisi biologis akibat polimorfisme genetik tertentu membuat stabilitas mood sulit dipertahankan dengan intervensi sugestif saja. Hipnoterapi, dalam konteks ini, hanya berfungsi sebagai terapi tambahan (adjunctive therapy), bukan terapi utama.

Peran Psikiater dalam Menentukan Kelayakan Hipnoterapi

Yang sangat penting untuk digarisbawahi adalah bahwa keputusan apakah pasien BD dapat menjalani hipnoterapi atau tidak harus berada di tangan psikiater. Psikiater memiliki kompetensi untuk:

  • Menegakkan diagnosis fase penyakit (mania, depresi, hipomania, atau remisi).
  • Menilai stabilitas kondisi pasien dan memastikan bahwa pasien berada dalam fase yang cukup stabil untuk menerima intervensi psikoterapi.
  • Menentukan kombinasi terapi yang paling sesuai (farmakoterapi, psikoterapi, termasuk hipnoterapi).
  • Mengawasi keamanan pasien, karena hipnoterapi yang diberikan pada fase mania/depresi berat tanpa pengawasan medis dapat berisiko memperburuk gejala atau menunda penanganan farmakologis yang lebih mendesak.

Dengan demikian, hipnoterapi pada pasien BD hanya dapat diberikan setelah mendapat izin dan rekomendasi psikiater, serta dijalankan dalam kerangka terapi komplementer yang menyatu dengan perawatan medis dan psikologis lainnya.

Kesimpulan

Bipolar disorder ditandai oleh perubahan neurobiologis kompleks mencakup atrofi fronto-limbik, disregulasi dopamin dan GABA, disfungsi jaringan fungsional otak, serta predisposisi genetik. Kondisi ini membatasi efektivitas intervensi berbasis sugesti seperti hipnoterapi, terutama pada fase mania dan pasien dengan kerusakan neurostruktural berat.

Meski demikian, hipnoterapi tetap memiliki nilai sebagai terapi komplementer untuk mengurangi stres, meningkatkan regulasi emosi, serta mendukung kepatuhan obat. Ke depan, integrasi hipnoterapi dengan farmakoterapi dan intervensi psikososial berbasis bukti merupakan pendekatan paling realistis. Dengan demikian, hipnoterapi bukanlah terapi utama BD, melainkan tambahan yang bermanfaat bagi sebagian pasien, tergantung kondisi neurobiologis dan fase penyakit.

Daftar Pustaka
  • Belujon, P., & Grace, A. A. (2017). Dopamine system dysregulation in major depressive disorders. International Journal of Neuropsychopharmacology, 20(12), 1036–1046.
  • Cui, L. B., et al. (2024). Neurotransmitter imbalance in depression: revisiting the monoamine hypothesis. Nature Reviews Neuroscience.
  • Drevets, W. C., et al. (2008). Neuroimaging abnormalities in the amygdala in mood disorders. Annals of the New York Academy of Sciences, 985(1), 420–444.
  • Grande, I., Berk, M., Birmaher, B., & Vieta, E. (2016). Bipolar disorder. The Lancet, 387(10027), 1561–1572.
  • Heidari, Z., et al. (2023). Brain structural changes in schizophrenia patients compared to the control: An MRI-based Cavalieri’s method. Basic and Clinical Neuroscience, 14(1), 35–46.
  • Hibar, D. P., et al. (2018). Cortical abnormalities in bipolar disorder: An MRI analysis of 6503 individuals from the ENIGMA Bipolar Disorder Working Group. Molecular Psychiatry, 23(4), 932–942.
  • Kjaer, T. W., Bertelsen, C., Piccini, P., Brooks, D., Alving, J., & Lou, H. C. (2002). Increased dopamine tone during meditation-induced change of consciousness. Cognitive Brain Research, 13(2), 255–259.
  • Lee, J. S., et al. (2022). Dopamine dysregulation across mood states in bipolar disorder: Evidence from cerebrospinal fluid homovanillic acid. Translational Psychiatry, 12(1), 134.
  • O’Connell, K. S., McGregor, N. W., Lochner, C., & Emsley, R. (2021). Genetic underpinnings of bipolar disorder: A review of genome-wide association studies. Psychiatric Genetics, 31(5), 167–176.
  • Schumer, M. C., et al. (2023). Functional neuroimaging in bipolar disorder: Abnormalities in emotion regulation and default mode network. NeuroImage: Clinical, 37, 103322.
  • Wang, Y., et al. (2019). Selective brain gray matter abnormalities in bipolar disorder: Evidence from meta-analysis. Bipolar Disorders, 21(5), 449–459.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top